Zainal Arifin Atawa Ari dan Alias-alias yang Menunggu Disemat
Foto: Adina Voicu

ZAINAL Arifin atawa Ari alias Ari Nasdem mendadak cemerlang. Hari ini, Selasa, 4 Februari 2020, salah seorang “bintang” Poktolak Tambang ini benderang di bawah spotlight media siber yang dipublikasi di Banyuwangi.

Kali ini, prestasinya yang disoroti (yang Mbah baca sambil malas-malasan mengikuti liukan mobil dari Selatan menuju kota Banyuwangi) adalah nyali—atau justru kedunguan—dalam soal melanggar hukum. Entahlah, Mbah tidak akan mengkonklusi apa pun, mengingat batas antara berani dan bodoh biasanya hanya setipis titian serambut dibelah tujuh.

Yang bisa Mbah acungi jempol adalah kenekatannya untuk tak tahu malu. Soal ini, dia pantas disanding beroleh trofi juara bersama Yunus meong Blambangan.

Seberapa kenalkah Mbah ihwal Ari yang mendapatkan imbuhan “Nasdem” (setelah dia bergabung dengan partai ini, jadi caleg, dan dengan jaya gagal beroleh suara) di belakang namanya? Tidak banyak, kecuali dari perbualan (beberapa disampaikan dengan bibir monyong mencibir) yang Mbah dengar di sepanjang pantai Pulau Merah, sebab keseringan nongkrong dan ngopi di salah satu lanskap wisata andalan Banyuwangi ini.

Kata birai-birai (kebanyakan tanpa gincu) yang Mbah simak—sebenar-benarnya—sambil lalu, Ari adalah pendatang di Kawasan Pulau Merah, sekitar 7–8 tahun silam. Nasib mujur atau karena jampi-jampinya manjur, dia berhasil menyunting perempuan Jepang, bikin usaha homestay (konon patungan dengan warga Australia), kemudian jadi aktivis, yang lalu terus mendorong status sosialnya hingga ke tangga politikus.

Sebagai penggiat pergerakan, satu-satunya dan yang dianggap menjadikan namanya sepoi-sepoi terdengar adalah aktivitas menolak operasi tambang (legal) di Tujuh Bukit. Kajian ala para pengamat warung kopi pantai Pulau Merah menganalisis, merasa populer dan punya massa, terakhir dia pe-de jadi caleg lewat Nasdem di Pemilu 2019. Hasilnya? Dia jadi bahan tertawaan karena “merasa ngetop” saja ternyata bukan jaminan dipercayai publik—walau hanya di Kecamatan Pesanggaran dan sekitarnya—mewakili mereka di DPRD.

Menurut bisik-bisik yang Mbah tangkap sambil mengunyah buah naga organik, sewaktu tahu hanya meraup secuil suara konstituen, Ari menyumpah-nyumpahi bani Poktolak yang nir solidaritas dan kesetiaan. Kabarnya, dia bahkan berjanji tak bakal lagi cawe-cawe dengan kaum Poktolak.

Namun, jadi pusat perhatiaan memang menggoda seperti candu. Begitu Poktolak beraksi lagi, menghadang geolistrik PT BSI di wilayah Lompongan, tanpa pikir panjang dia terjun bergabung. Bahkan tanpa jengah memerankan diri seolah salah satu penggeraknya. Apakah karena menolak tambang adalah ideologi yang dia anut dengan penuh sadar; sebab Pilkada sudah dekat dan syukur-syukur bisa mengkapitalisasi massa Poktolak; atau alasan lain yang lebih personal, hanya dia seorang yang tahu.

Pastinya, Ari luput sadar, jika dia terus-menerus menaruh diri di bawah lampu sorot, satu saat akan ada pertanyaan: siapa sebenarnya Ari Nasdem ini? Apa yang dia lakukan? Dan lain sebagainya.

Kini, setelah lebih tiga bulan Poktolak beraksi mengganggu geolistrik BSI di Lompongan, media akhirnya tergerak. Masalahnya, fakta yang dikuak alih-alih kian menggosok agar namanya mengilap, justru memapar kenyataan Ari tak lebih dan kurang hanya penyamun yang meneriaki calon korbannya sebagai bajingan. Homestay Mojo Surf Camp di Pulau Merah—hanya sepelemparan batu dari salah satu gate operasi tambang Tujuh Bukit—yang dia kelola, ternyata tak berizin, menduduki tanah Perhutani tanpa pamit, dan bahkan bebas ria menjajakan minuman beralkohol.

Lho? Kriminal kok berani-beraninya bertingkah seolah-olah pahlawan (lingkungan)? Ada pula (setidaknya komunitas Poktolak) yang dengan bodoh dan tanpa periksa memercayai ocehannya.

Akan halnya Mbah? Maaf saja, karena tak pintar berteori konspirasi, Mbah hanya melihat dengan mata sederhana: Ari menjadikan aktivitas tolak tambangnya semata-mata alat tawar-menawar dengan BSI demi kepentingan ekonomi. Mbah kian yakin dengan dugaan ini, karena (lagi-lagi menurut kisik-kisik yang lalu-lalang) selama ini BSI emoh menggunakan homestay-nya, terlebih lagi punya hubungan bisnis dengan Ari.

Kalau pun dugaan itu berakhir sebagai syak saja, dengan pengungkapan media, Mbah haqqul yakin dia bakal punya sederet alias baru. Bisa Ari homestay ilegal, Ari miras, dan bahkan tidak tertutup kemungkinan Ari tersangka (gara-gara menduduki tanah Perhutani).

Memang sungguh repot jika gaya mega dan mulut besar tak disertai kelakuan yang genah.[]

TANGGAPI