Wartawan Pe-A, Kabid Gelagap
Ilustrasi: Poster Film "Dumb & Dumber" (1994)

DURIAN kasur namanya. Dari mana akar silsilahnya, tentu tak penting-penting amat. Sama tak relevan mengusik mengapa disebut “kasur”, bukan (misalnya) bantal atau selimut. Yang jelas, rasa durian yang Mbah temukan dijaja di kelokan Sungai Lembu ini, memang maut dan jegger: manis, lembut, dan legit.

Eh, sedang syur-syurnya mengulum si kasur ini, kawan seperkulineran Mbah menyodor ponselnya. Ada tautan ke Nusantara News yang baru saja mengunggah berita Pernyataan antara PT BSI dan Pemerintah Daerah Banyuwangi Tidak Sinkron. Menyimak cepat beritanya, Mbah tak kuat menahan kekeh.

Pemberitaannya sendiri tentang saham Pemda Banyuwangi di PT Merdeka Copper Gold Tbk (MCG), yang menurut Manajer Communications Affairs PT BSI, Mufizar Mahmud, per 31 Januari 2020 sejumlah 1.145.000.000 lembar dengan nilai sekitar Rp 1,339 triliun. Pewarta yang menulis berita ini kemudian mengadu pernyataan Mufizar ini dengan mengutip Kabid Akutansi Pemda Banyuwangi, Firman Hidayat.

Mbah kontan geli bercampur tengsin membaca komentar Firman, juga ilmu hitung penulis beritanya. Katanya (dikutipkan sebagaimana adanya), “Kalau Pemda Banyuwangi tidak dapat mengomentari statement saham Pemda di PT MCG sebesar Rp 1.339 triliun, karena sampai saat ini Pemda belum mendapatkan laporan keuangan perusahaan, apalagi per 31 Januari 2020.”

Apakah wartawannya yang salah bertanya, sesat mengutip, dan silap menulis; atau Kabid gelagap karena alpa mengerti urusan korporasi, saham, dan pasar modal?

Pertanyaan-pertanyaan itu, selain mengganggu lezatnya durian kasur, sangat meyakinkan mampu membuat gula darah naik dan tensi melonjak. Sama dengan lalu lalang ocehan spekulatif, jangan-jangan saham Pemda Banyuwangi di MCG bodong semata.

Satu, dapat dipastikan wartawan yang menulis berita sumir itu sama sekali tak paham apa yang dia maksud, kecuali mencari-cari cara agar BSI (dan induknya, MCG) tampak buruk di benak pembaca. Kok bisa? Mbah ajari ya, apa yang disampaikan Manajer Communications Affairs BSI adalah informasi umum yang luar biasa gampang ditemukan di situs Bursa Efek Indonesia (BEI).

Biar wartawan kita yang mulia ini tidak tersesat, caranya adalah: setelah membuka situs BEI, klik “Perusahaan Tercatat”; kemudian klik lagi “Profil Perusahaan Tercatat”; lalu ketik “MDKA” (kode MCG di BEI) di pencarian. Lihat, di layar akan keluar “MDKA” dan perusahaannya (PT Merdeka Copper Gold Tbk) yang mulai dicatatkan di BEI pada 19 Juni 2015.

Mau lebih lengkap? Klik “PT Merdeka Copper Gold Tbk”. Hola! Tampillah seluruh informasi tentang induk BSI ini, lengkap dengan komposisi sahamnya, di mana Pemda Banyuwangi menguasasi 1.145.000.000 lembar.

Saham Pemda Banyuwangi di MDKA

Sudah paham, Bung Wartawan? Jika tidak juga, Anda kebangetan pendek akalnya, deh. Anak muda Jakarta bilang, Nggak kuat pe-a-nya.” Lagipula, bisa-bisanya situs berita digital mempekerjakan orang yang otaknya masih hidup di zaman analog. Tidak pula mudeng matematika karena di tubuh berita mencampuradukkan Rp 1,339 triliun dan Rp 1.339 triliun.

Ingat baik-baik, yang satu artinya “satu koma tiga ratus tiga puluh sembilan triliun rupiah” (harga 1.145.000.000 lembar saham Pemda Banyuwangi di MCG, bila harga per lembarnya Rp 1.170), sedang yang lain adalah “seribu tiga ratus tiga puluh sembilan triliun rupiah”.

Dua, di manakah yang mahardika Kabid Akutansi Pemda Banyuwangi bersekolah ekonomi? Bagaimana bisa dia menghubungkan antara laporan keuangan MCG, rapat pemegang saham, dan nilai total saham yang dikuasai Pemda? Atau jangan-jangan dia lulusan tata busana yang mendapat durian runtuh jadi Kabid Akutansi?

Harga saham MDKA, Kamis, 6 Februari 2020

Tuan Kabid, untuk tahu nilai seluruh saham Pemda Banyuwangi di MCG, cukup googling harga saham MDKA, maka terpampanglah harga harian per lembar (real time saat pembukaan hingga penutupan perdagangan di bursa). Dari harga harian per lembar (Kamis, 6 Februari 2020, ditutup naik 0,43% menjadi Rp 1.175) dan kalikan dengan 1.145.000.000. Hasilnya adalah Rp 1.345.375.000.000 atau “satu triliun tiga ratus empat puluh lima miliar tiga ratus tujuh puluh lima juta rupiah”.

Sudah  paham, kan? Dengan begitu, sila berkomentar dengan baik dan benar, biar gaji yang dibayarkan negara buat Anda berfaedah adanya. Sebab, celakalah orang banyak yang disuguhi tulisan wartawan pe-a yang mengutip Kabid (Akutansi) gelagap. Alih-alih mendapat pencerahan, yang diperoleh justru jalan sesat tak berujung.[]

TANGGAPI