Tour de Ngapusi
Foto: Ljupco

EMPAT hari Mbah liburan (berida pun perlu piknik biar awet tua) di luar Banyuwangi, gonjang-ganjing di Tujuh Bukit dan sekitarnya ternyata cetar menggelegar. Poktolak Tambang disokong Walhi Jatim benar-benar mengaktualkan “Aksi Kayuh Sepeda” Banyuwangi–Surabaya demi menuntut Gubernur mencabut IUP PT BSI dan PT DSI.

Lebih 300 km ditempuh para jagoan Poktolak (para pesepeda amatir yang sehari-hari justru lebih banyak mengendarai sepeda motor), mulai dari Dusun Pancer ke Jember, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, sebelum akhirnya tiba di Surabaya dan menuju Kantor Gubernur Jatim untuk menyampaikan tuntutannya. Luar biasa bukan? Maka di hari kick off, Sabtu, 15 Februari 2020, Mbah gatal betul ingin menonton upacara pelepasan tur sepeda ini.

Sayangnya, karena telanjur bikin jadwal pelesiran dengan Mbah Tomat tersayang, keinginan itu mesti ditelan bulat-bulat. Nahasnya lagi, menurut rumus Mbah Tomat, liburan artinya sesedikit mungkin menyentuh telepon selular, sebaliknya memperbanyak jalan-jalan dan cuci mata (seolah-olah setiap hari Mbah cuma ongkang-ongkang kaki di rumah).

Apa boleh buat, epik Aksi Kayuh Sepeda itu hanya bisa diikuti sepotong-sepotong. Tapi dengan begitu justru mengundang penasaran. Terlebih, dari laporan pandangan mata yang Mbah baca terburu-buru di salah satu WAG, menceritakan, baru juga masuk wilayah Silir Baru sudah ada pesepeda yang ngos-ngosan dan terpaksa mesti segera diganti dengan penunggang cadangan.

Mengayuh pedal sejauh lebih 300 km dengan medan yang sangat variatif (membayangkan tanjakan menuju Jember saja sudah bikin dengkul sempoyongan), memerlukan lebih dari pidato pembakar semangat. Dengan berhari-hari menongkrongi tenda di ujung Dusun Pancer, tanpa persiapan fisik memadai, sejak mula Mbah yakin: kampanye bersepeda ini hanya gaya-gayaan. Show live beberapa menit di facebook supaya jadi perhatian orang banyak (yang terjadi tidak), ditangkap media massa, menghasilkan guyuran simpati dan empati, yang akhirnya memojokkan BSI.

Dugaan itu terbukti benar. Mulut besar para pentolan Poktolak dan propaganda yang digeber Walhi Jatim di media sosial, hoaks semata. Rekaman-rekaman yang banyak dibagikan menunjukkan pedal hanya dikayuh di siang hari, itu pun jika ada yang menonton. Setelahnya, terlebih saat rombongan tak diawasi mata publik, sepeda dan yang mengawaki melenggang naik mobil pick up.

Lidah tidak bertulang. Bacot gede memang gampang. Tapi Poktolak, terlebih aktivis Walhi Jatim, bukan atlet Tour de Ijen. Bahkan pesepeda profesional, terlatih, dengan stamina terjaga, yang ambil bagian di Tour de Ijen dan hanya mengelilingi separuh Banyuwangi, perlu setidaknya 4 hari menyelesaikan setiap etape dengan tetap butuh istirahat (demi pemulihan) cukup.

Selasa pagi, 18 Februari 2020, peserta Aksi Kayuh Sepeda anti-BSI dan operasi tambangnya di Tujuh Bukit sudah berada di Surabaya. Hebat! Minimal mereka memamah 100 km per hari. Selamat untuk Pemda dan masyarakat Banyuwangi yang akhirnya punya tim andal yang bakal memenangkan Tour de Ijen 2020.

Masalahnya, dengan menggunakan ilmu pengetahuan, akal sehat, dan kewarasan, kita tahu  Aksi Kayuh Sepeda Poktolak dan Walhi Jatim hanya bohong-bohongan sahaja, kan? Ini menyedihkan. Katanya berjuang demi keyakinan yang akan diwariskan ke anak cucu, kok ngapusi dan tidak konsisten? Sama tidak konsistennya dengan argumen-argumen yang selama ini diteriakkan, bahwa sejak mengoperasikan tambangnya di Tujuh Bukit BSI hanya merusak lingkungan. Tidak memberikan faedah apa pun.

Kalau yang mudah dilihat saja dengan sengaja diakal-akali oleh Poktolak dan penyokongnya (terutama Walhi Jatim), tentu tak usah berharap apa yang mereka suarakan dapat digenggam kebenarannya.

Begitulah tampaknya memaknai kibul mengayuh sepeda Banyuwangi–Surabaya yang secepat kilat sudah mencapai Surabaya. Yang tiga hari kemudian (sejak berangkat) pesertanya dengan segar-bugar siap menemui otoritas yang dianggap bertanggung jawab, termasuk beramai-ramai ke Kantor Gubernur Jatim dengan tekad mesti bertemu Gubernur. Termasuk jika perlu menginap di Kantor Gubernur.

Mereka lupa, Kantor Gubernur Jatim bukan tenda di ujung Dusun Pancer. Pukul 17.00 WIB kantor tutup, massa mesti bubar. Jika tidak, urusannya—minimal—gangguan terhadap fasilitas pemerintah dan kepentingan publik. Alhasil, tekad menggelar tikar pun patah. Sama terpenggalnya dengan kayuh pedal yang diganti dengan leyeh di mobil pick up. Kemah di Kantor Gubernur pun diganti pelesir, termasuk ke Waduk Sepat.

Bagaimana kiranya akhir dari tour de ngapusi Poktolak dengan dukungan Walhi Jatim ini? Penonton dan penggembira seperti Mbah merasa (sekali lagi) tertipu mentah-mentah; orang banyak kian sadar siapa-siapa saja yang ternyata ayam sayur sok pahlawan; pemerintah dan aparat berwenang jengkel sebab mesti mengurusi kelompok badut; BSI punya satu lagi materi lelucon; dan—ini bagian sedapnya—para peserta tur pasti sedang seru cakar-cakaran mencari kambing hitam.[]

TANGGAPI