Teperdaya Kontan Sang Bakal Calon Bupati
Foto: PaintedFeet

TERTAWA sungguh bikin bugar. Jujur saja, untuk perkara ini, belakangan Mbah harus menghatur banyak terima kasih kepada tuan pandir Yunus meong Blambangan. Gendang lebay-nya yang selalu secara tak sengaja Mbah sua, benar-benar bikin ngakak.

Andai di Banyuwangi ada kelompok sirkus, Mbah merekomendasi Yunus meong Blambangan mesti didapuk jadi badut utama. Membayangkan dia (tanpa mencopot anting di kuping kanan, serta mencukur jenggot dan kumis) dipupuri tebal dengan bulatan merah di hidung, sudah mampu menggelitik saraf gelak.

Rabu, 5 Februari 2020, atensi Mbah—yang lagi ayal-ayalan di warung makan dekat Kantor Desa Sumberagung—dibetot rombongan si meong yang melintas riuh. Tanpa pikir dua kali, Mbah bersigegas turut dengan kepastian tujuan mereka tak bukan adalah tenda Poktolak yang masih terpacak (sekalipun kian muram) di ujung Dusun Pancer.

Ringkas cerita: yang akbar meong Blambangan menemui Poktolak bersama (katanya) rombongan LSM (sudah pasti bukan LSM sungguhan) menyerahkan bantuan sembako berbonus seekor kambing. Pucuk dicinta logistik tiba dan diterima sukacita. Berbeda dengan kiriman pangan dari Kades Sumberagung beberapa waktu lalu, yang dengan segera dibedal jadi sampah.

Sembako bersuplemen kambing itu jelas sirkus yang sedap ditonton, pula dikaji karena—mau atau tidak—terhubung intim dengan aktivitas lain bandero meong Blambangan. Yakni: jadi tim sukses salah satu bakal kandidat Bupati Banyuwangi 2020–2025. Perihal tim sukses ini, dapat dicerap dari video yang hilir mudik di medsos, di mana Yunus meong memperkenalan bakal kandidatnya lengkap dengan keterangan, “Anak jenderal… Pengusaha tambang sukses…” Ini yang mau dijual bapaknya atau anaknya? Kok antitambang (BSI) tiba-tiba mendukung tambang (bakal calon Bupati)?

Potret bicara lebih dari 1.000 kata. Video jutaan ucap. Meong Blambangan? Orang banyak yang hilang cakap.

Menonton video kampanye candidacy cempiangnya, Mbah kontan mafhum: motif utama aksi empunya meong bukanlah solidaritas, apalagi dukungan terhadap Poktolak. Yang dia lakukan cuma transaksi politik kelas pandak dengan menjual (entah kontan atau cicilan) Poktolak ke balon Bupati yang didukung. Jenakanya, Poktolak yang tengah adrenalin tinggi dengan sadar terbuai lenak liur manisnya.

Poktolak bahagia beroleh sembako plus kambing, meong bersuka sebab jualannya laku, sedang bakal calon Bupati tuntas terkecoh. Hanya bacalon Bupati bolor yang tak mengkalkulasi untung-rugi politik ulah tim suksesnya. Menurut Mbah, bakal calon yang percaya juragan meong mampu menjajakan sosoknya hingga lolos jadi salah satu kontestan Pilkada Banyuwangi 2020, senyatanya telah gagal telak. Teperdaya tanpa ampun.

Siapa pun dia, bakal calon Bupati itu, segeralah istigfar, berkemas, dan pulang ke Jakarta sebelum pundi-pundinya terlanjur dicucup habis dan hanya menyisahkan (seperti tajuk film 1987 yang disutradarai Nasri Cheppy) bilur-bilur penyesalan. Atau, mengingat masih cukup waktu sebelum pendaftaran bakal calon dan pelaksanaan Pilkada digelar, bergegaslah menakhlik tim sukses baru yang genah, kompeten, dan profesional. Bukan tukang tipu tikungan yang tak jelas asal-usul kaji dan pengalaman politiknya.

Sederhananya, Pilkada adalah proses demokrasi yang bertujuan mengumpulkan dukungan suara sebanyak-banyaknya. Yunus dan gerombolan ronggeng di kitarannya terlalu bodoh untuk mampu menghitung, bahwa mendekati Poktolak berarti menyasar potensi sekitar 100-an suara dikali (sekitar) 2 atau 3 suara ikutan—dengan asumsi 1 Poktolak mewakili 1 keluarga beranggota 3 orang yang punya hak pilih. Total peluang perolehan dukungan dari lagak Yunus meong dengan Poktolak ada di kisaran 200 hingga 300 suara.

Sekarang bandingan dengan jumlah karyawan BSI asal sekitar Tujuh Bukit khususnya dan Banyuwangi umumnya, yang diperkirakan 67% dari tak kurang 3.000 orang. Angka terendah persentasi ini adalah 1.800 orang. Bila tiap karyawan dikali 3 (anggota keluarganya yang memiliki hak pilih), jumlah total mencapai tak kurang 5.400 potensi dukungan suara.

Konklusi perbandingan matematis itu adalah: bakal calon Bupati dan timnya yang berhasrat sukses di Pilkada Banyuwangi 2020, justru mutlak mesti mendekati BSI agar perusahaan ini mau mendorong karyawan dan keluarganya memberikan dukungan. 5.400 daya suara adalah modal politik yang haram disepelekan.

Bakal calon yang saat ini diusung Yunus meong Blambangan sudah pasti telah kehilangan (paling minim) 5.400 potensi suara. Payu yang harus dibayar semata sebab keliru gaul dan pilih tim sukses.[]

TANGGAPI