Tambang Ditolak, Poster Yusup Widyatmoko Dianiaya

CELAKA 13. Poster sosialisasi Pilkada Banyuwangi 2020–2025 milik H. Yusuf Widyatmoko, S.Sos yang dipampang di perempatan Desa Sumbermulyo dirusak corat-coret. Tindakan vandalisme ini dilakukan dengan menutupi gambar Yusuf—saat ini menjabat Wabup Banyuwangi (2015–2020)—dengan tulisan: “Cabut IUB BSI! Tolak Tambang!”

Mbah melihat poster yang merana itu saat melintas menuju Pulau Merah. Entah sudah berapa lama kejadiannya, tapi hingga Jumat sore, 24 Januari 2020, barang itu masih tegak berdiri.

Terus-terang, siapa pun penganiaya poster yang sejatinya memajang potret Wabup diimbuhi “H. Yusuf Widyatmoko. Mohon Doa Restu. Bakal Calon Bupati Banyuwangi.” itu, pasti melakukan saat dia tak membawa otaknya. Tindakan ini, di saat tensi politik Pilbub mulai memanas dan Poktolak Tambang tengah beraksi memblokade geolistrik PT BSI di Dusun Pancer, jelas-jelas adalah provokasi serius.

Imbas tahun politik memang bisa ke mana-mana, apalagi jika yang melibatkan diri adalah warga persekutuan dungu. Mbah jadi teringat, 2015 saat Pilbub berlangsung, eksplorasi di Tujuh Bukit (waktu itu masih di bawah PT IMN) juga terkena demamnya. Warga yang diprovokasi menolak tambang berulah hingga berakhir dengan perusakan dan pembakaran aset perusahaan. Beberapa orang yang terbukti jadi tokoh utama diringkus polisi (sementara dalang di baliknya melenggang bebas), diproses hukum, dan masuk kerangkeng.

Semoga di 2020 ini tokoh-tokoh Poktolak lebih bisa menggunakan isu kepala (memang sedikit, sih, tapi ada, kan?) hingga amuk yang sama tidak berulang.

Sementara itu, yang dapat Mbah pastikan—penuh keyakinan—tulisan yang menimpai wajah Yusuf dibuat bukan oleh mereka yang bekerja atau tahu operasi tambang. Ada kesalahan fatal coretan pelakunya, yang alih-alih menulis IUP malah IUB. IUP pastilah Izin Usaha Pertambangan. Apa IUB artinya Izin Usaha Bertambang? PETI, dong, yang jadi pelaku?

Kesalahan teruk itu, apa boleh buat, membawa telunjuk ke muka Poktolak atau minimal simpatisannya. Lagipula, hanya mereka yang tanpa mikir bisa dengan beringas tak hanya mengganggu, tapi merusak apa saja yang dianggap tidak sepaham, bahkan menganiaya pekerja tambang. Beberapa kasus pemukulan dan penganiayaan pekerja BSI yang kini tengah disidik polisi membuktikan Poktolak sudah kehilangan akal.

Siap-siap saja para pentolan Poktolak menghadapi arus balik sebagai akibat perusakan poster Wabup yang juga Ketua Dewan Pimpinan Derah Banteng Muda Indonesia (DPD BMI) Jawa Timur. Logo organisasi ini, di poster yang dianiaya itu, dicantum berdamping dengan logo PDI Perjuangan. Merusak barang yang mencantumkan logo dua organisasi ini, tentu absah saja diterjemahkan sebagai pelecehan.

Nah, melecehkan PDI Perjuangan yang menguasai mayoritas kursi DPRD Banyuwangi hasil Pemilu 2019, juga BMI yang anggotanya dikenal militan, sama dengan mengundang banyak penyakit kronis. Memang belum terdengar ada reaksi dari dua organisasi ini. Barangkali karena mereka belum tahu kejadiannya. Tapi Mbah yakin, dalam waktu dekat vandalisme poster Yusuf Widyatmoko itu bakal tiba juga di mata atau kuping PDI Perjuangan dan BMI.

Sembari berharap Poktolak membuka sedikit pikiran mereka, di jalan menuju perburuan durian (lagi) di Desa Kandangan, Mbah ingin berbagi nasihat: Fitri, Paini, Bu Mis, Dayat, Ari, Narto, dan semua yang mengaku Poktolak, bersegeralah poster sosialisasi yang dirusak diturunkan dan diganti. Serta, yang terpenting di atas yang penting, temui segera Yusuf Widyatmoko dan mohonkan maaf lahir batin. Melecehkan Wabup 2015–2020 yang Bacabub 2020–2025 serta Ketua DPD BMI, sama dengan menginjak ekor macan sedang tidur. Tambah pula, sepengetahuan Mbah, di Dusun Pancer cukup banyak kerabat sangat dekat istri Yusuf yang tentu tak akan membiarkan dia diremehkan begitu saja.[]

TANGGAPI