Surat dari Ulat Bulu
Foto: Krzysztof Niewolny

TUKANG cari perhatian (attention seeker) memang gatal-gatal jika dia dan atraksinya—yang dikira mengundang ‘’wow’’—diremehkan. Padahal memang leceh belaka.

Begitulah yang terjadi dengan yang mulia M. Yunus Wahyudi. Dia rupanya membaca Pahlawan KW5 Itu Bernama M. Yunus Wahyudi, menggelinyau tak tahan dan akhirnya mengirim surat elekronik. Pendek saja: “Monggo ketemu dengan saya jgn bicara yg berani di pantat tunjukkan bahwa kamu laki2 itu baru namanya hebat”  (dikutip sebagaimana sejatinya).

Nada suratnya tidak marah (‘’monggo’’ adalah ekspresi halus dalam bahasa Jawa). Lebih tepat ditafsir sebagai kebingungan sembari mati-matian ingin mengesankan dia tetap pendekar tanpa tanding. Iyalah…. Harimau Blambangan!

Nyatanya, dengan membaca surat elektroniknya, keyakinan saya kian pasti bahwa selain narsis, saat pelajaran tanda baca dia rupanya bolos melulu. Anak SD dengan ponten 6 untuk bahasa saja tahu persis, kalimat yang hanya terdiri dari beberapa kata itu sungguh bikin pening. Mungkinkah sebab keypad telepon pintar atau komputer yang dia gunakan sedang error?

Melihat “tampilan panggungnya” saat berorasi di Dusun Pancer, juga video-video narsisnya di YouTube, harus diakui kehebatannya dalam berbahasa sangat konsisten. Hiperbolis, melungker-lungker tak ketahuan juntrungan, dan tanpa tanda baca. Klop! Bukan dosa keypad, tapi dari asalnya yang bersangkutan memang terlanjur miring.

Tapi perlukah Mbah menanggapi surat elektronik pahlawan kesiangan itu? Mula-mula Mbah berpikir buat apa mengurusi ulat bulu. Bikin geli saja, alih-alih membuat takut. Ihwal geli ini, lebih baik dicambuk daripada menanggung derita terpiuh-piuh. Cukuplah kesengsaraan menonton video-video lebay bombay-nya (padahal sekadar memuaskan keingintahuan apa hebatnya orang ini) yang menunjukkan betapa gampangnya dia menjilat liur dan iler yang sebelumnya sudah diludahkan.

Berapi-api menyerang NU. Eh, setelah itu memuji-muji setinggi langit. Usut-punya usut, ternyata bokongnya sudah disambet Banser. Berbuih-buih mengecam Bupati, tak lama kemudian berbunga-bunga menyampaikan sebaliknya. Lha, ini jenis orang seperti apa? Lidahnya kok lebih beracun dari kadal gurun atau komodo?

Darinya, ketimbang meladeni persilahkan bertemu, saya memilih menasihati kucing pengkolan yang merasa harimau itu. Bertemu juga tak akan menambah keimanan, apalagi isi dompet.

O, jangan pula repot-repot mencari tahu pengertian beberapa kata di sini yang pasti membuat Anda pening.

Begini, tuan gerinyau, tidak usah merepotkan apakah Mbah ini laki-laki atau bukan. Mbah sudah pasti aki-aki yang tidak terganggu dan tidak tertarik dengan tantangan dari tukang cari panggung. Lagipula, bila terbangun pagi dengan gembira dan ada ilham untuk berela hati bertemu dengan pemilik lidah kadal, Mbah pasti menenteng obat anti agas.

Serangga, terutama yang membawa akibat sangat buruk terhadap manusia, jika tak bisa diusir, memang harus segera dipites. Ulat bulu, apalagi bila populasinya meledak dan menginvasi ke mana-mana, mesti langsung ditangani saksama agar “dot” sesingkat-singkatnya.

Nasihat untuk ulat bulu tak perlu panjang: pusatkan saja pikiran dan perhatian pada dugaan-dugaan pidana yang kini datang berendengan, terutama fitnah selongsong peluru yang dilontarkan berapi-api (tanpa pikir) di pidato omong kosong di hadapan massa Kelompok Tolak Tambang di Dusun Pancer. Pula, konon kabarnya, sebakul sangkaan penipuan dari sejumlah orang (perempuan pula) karena laku lancung.

O, jangan pula repot-repot mencari tahu pengertian beberapa kata di sini yang pasti membuat Anda pening. Kata-kata itu hanya ditujukan untuk mereka yang waras dan punya akal sehat.

Akan halnya Mbah? Musim durian sudah tiba. Sedapnya![]

Durian Sikasur

TANGGAPI