Polisi India Versus Polisi Banyuwangi

HARI ini, Sabtu, 11 April 2020, Mbah nongol lagi setelah tepat sebulan tiga hari puasa menulis.

Mbah tidak ke mana-mana, tapi memang tak beredar di Banyuwangi, apalagi sekitar Tujuh Bukit. Alhamdulillah, tak pula tersambet Covid-19. Namun, Mbah memang tidak berdaya sebab sejak virus ini mulai terdeteksi masuk Indonesia, Mbah Tomat yang berpikir “futuristis” kasih ultimatum: ‘’Tua bangka, jangan pecicilan. Sekali disambar Corona, Sampeyan game over.’’

Maka sebelum pemerintah pontang-panting menginstruksikan semua orang social and physical distancing (terutama dengan tidak kelayapan), pakai masker, rutin cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, makan makanan bergizi, dan olah raga teratur, Mbah sudah didisiplinkan dan di-lockdown maklumat Mbah Tomat. Lockdown ini termasuk disertai penyitaan dan kontrol ketat terhadap telepon selular. Alasannya: kalau kebanyakan baca WA, nafsu cari-cari kilahan agar bisa ngelayap bakal bangkit, dan akhirnya cuma bikin termometer emosi melonjak ke derajat tinggi.

Baru belakangan, setelah situasi kian jelas, Mbah yang rasanya tak lama lagi mulai bisa bercakap dengan pot bunga, akhirnya diizinkan pegang telepon selular. Sesekali juga boleh keluar rumah. Syaratnya: tidak ketemu orang (apalagi kumpul-kumpul bergosip). Hanya kebun-rumah, kebun-rumah.

Apa boleh buat, daripada berdiskusi dengan pot dan kembang peliharaan Mbah Tomat atau jemari keriting kebanyakan WA-an, bercakap-cakap dengan pohon jeruk bolehlah. Maka syarat Mbah Tomat diiyakan seketika. Sekalipun, ibarat narapidana, pembatasan ketat itu bukan asimilasi. Cuma sedikit kesempatan pesiar sebelum masuk lagi dalam lembaga lockdown Mbah Tomat.

Begitu telepon selular leluasa di tangan, bagai bah aneka rupa cerita masuk di WA. Banyak yang sudah basi, utamanya hal-ihwal Corona yang justru Mbah ikuti langsung dari situs World Health Organization (WHO) dan saluran resmi yang ditetapkan Pemerintah Indonesia. Mempercayai info dari luar dua sumber ini, sama artinya dengan mempercepat kegilaan karena bosan dikurung di dalam rumah.

Untunglah, ada setumpuk cerita lain yang bikin syur. Yang anyar dan sesuai selera Mbah, apalagi kalau bukan tentang penghadangan armada logistik BSI oleh Poktolak Tambang yang terjadi Kamis malam, 26 Maret 2020, yang berentetan dengan bentrok, ditambah suspense penyerbuan dan perusakan rumah dan harta benda di Dusun Pancer, serta dibumbui pengerahan aparat kepolisian dan TNI ke sekitar Tujuh Bukit. Seru nian peristiwanya. Andai tidak di-lockdown oleh Mbah Tomat dan Mbah tahu peristiwanya lebih awal, pasti saat itu Mbah sudah melesat secepat-cepatnya ke Kecamatan Pesanggaran.

Tapi, apa boleh buat, Corona dan lockdown Mbah Tomat memang sakti mandraguna.

Sekalipun demikian, informasi WA, juga pemberitaan di berbagai media yang Mbah temukan (selama telepon selular disita, Mbah memang main internet tapi ke situs-situs museum, lembaga penelitian, juga perpustakaan-perpustakaan universitas yang berbaik hati menggratiskan koleksi buku-bukunya), tak kurang meruah. Pendek kata, setelah empat jam membaca WA dan browsing: buntut penghadangan logistik BSI oleh Poktolak Tambang lebih membetot dibanding drama Korea yang habis-tuntas dilalap Mbah Tomat sejak Corona bikin dia paranoid keluar rumah.

Mata berkunang-kunang karena memelototi layar telepon dan komputer, kepala nyut-nyut, lalu apa? Ini dia: Poktolak Tambang menghadang logistik BSI karena (katanya) kuatir mobil yang datang bisa menyebarkan Corona. Pendapat Mbah, yang menyimpulkan demikian pasti senang memeluk-meluk truk, barangkali pula sembari menjilat-jilat seluruh badan mobil.

Halo, tidak adakah di antara para pentolan Poktolak Tambang yang membuka situs resmi informasi Corona hingga mereka tiba pada simpulan mahadungu begitu? Mbok ya telepon selular canggih yang ada di genggaman jangan cuma dipakai bergosip atau nonton film porno. Sesekali tolonglah difaedahkan mengisi liang otak agar bunyinya sedikit berbeda dengan tong kosong.

Yang lebih luar biasa dan membuat Mbah langsung menggeser tetikus mencari tayangan polisi India yang tak segan merotan warga yang tak patuh pada pembatasan besar-besaran yang diterapkan negara itu akibat Corona; karena ternyata aparat berwenang (terutama polisi) bersikap lembek terhadap kumpul-kumpul massa Poktolak Tambang. Bukan hanya saat penghadangan logistik BSI, tetapi juga yang dilakukan secara massif (dan tak berhenti hingga hari ini) di tenda yang mereka dirikan dekat-dekat gapura Dusun Pancer.

Tak kurang celaka, di salah satu berita Mbah menemukan Kapolresta Banyuwangi dengan jenius dan gagah-berani bahkan melakukan pertemuan dengan massa Poktolak Tambang di bawah lindungan sakralnya tenda biru.

Mengingat peristiwa Kamis, 26 Maret 2020 dan ekornya berlangsung jauh setelah Kapolri menginstruksikan pembubaran kerumunan (makanya polisi tak segan mengusah pesta pernikahan sekalipun), dapat disimpulkan, lagak Poktolak Tambang dan laku Kapolresta Banyuwangi memang digdaya. Kalaupun mesti dimahfumi, paling-paling kita menduga-duga, ada udang di balik rempeyek antara Poktolak Tambang dan Kapolresta Banyuwangi.

Lebih dari itu, Mbah hanya bisa mengusap dada dan memuji polisi India yang ternyata tak hanya bisa menari dan mengintari pohon atau tiang listrik seperti gaya Inspektur Vijai yang suka dipertontonkan di film-film Bollywood. Membandingkan polisi Indonesia dengan polisi dari Polresta Banyuwangi? Kok tiba-tiba Mbah merasa mules ya?[]

TANGGAPI