Poktolak Tambang: Perkumpulan Para Perewa
Foto: Simon Steinberger

TENDA biru (gelap dan terang)—mengingatkan Mbah pada lagunya Desy Ratnasari—dipadu jingga, dan hijau terang, masih terpacak di ujung Dusun Pancer. Letaknya memang strategis: samping bekas tambak yang disulap jadi lapangan sepakbola, langsung berhadapan dengan perbukitan wilayah Salakan dan sekitarnya.

“Markas besar” Poktolak Tambang di aksi menghalangi geolistrik PT BSI itu belum surut aktivitas. Walau, hari ini misalnya, sudah tak se-greng sebelumnya. Dari jumlah suporter yang melampaui angka 100 di hari-hari awal, turun drastis jadi puluhan, dan bahkan malam-malam belakangan (di luar saat Poktolak menggelar keramaian) hanya terlihat beberapa orang—tidak lebih dari jumlah jari di dua tangan—tidur-tiduran sembari menahan terpaan angin Samudera Indonesia.

Bikin tenda, mengerahkan orang—terutama ibu-ibu dan bocah—, beberapa waktu terakhir jadi modus baru aksi (khususnya) terhadap industri ekstraktif. Ada yang sukses, misalnya tenda perlawanan masyarakat Kendeng saat memprotes rencana operasi PT Semen Indonesia di wilayahnya. Ada pula yang sekadar gerakan terpaksa, sebab motifnya serba tak jelas, kecuali kepentingan segelintir orang yang punya kuasa (uang dan ketokohan lokal) dan piawai menjual kecap ketakutan. Tenda perlawanan jenis ini bakal tak bertahan lama, apalagi jika pemodal yang menduiti mulai kembang-kempis sementara LSM advokasi teman seperjuangan hanya bisa menjanjikan dukungan batin. Halah, memangnya kampanye di twitter, maklumat di facebook, atau propaganda di Instagram dan situs organisasi bisa jadi makanan dan minuman, juga selimut buat mereka yang setia menjaga (tenda) simbol yang dikeramatkan itu?

Mbah, yang akrab dengan pemandangan tenda itu karena harus dilewati setiap kali makan siang atau malam ke Pantai Mustika, bersimpati dan terharu terhadap sebagian besar makmum Poktolak. Dari bincang dan gosip sambil lalu dengan mereka, cukup banyak yang hanya terpaksa: sebab diminta solider sebagai kerabat, tak mampu menolak akibat hubungan utang-piutang, juga relasi ketergantungan buruh nelayan dengan juragan ikan dan pemilik kapal.

Dari persentuhan keseharian itu, Mbah menyimpul, tidak memerlukan gelar sarjana sosiologi untuk mengatlaskan gerakan Poktolak. Stratifikasi gerakan ini bertingkat mulai dari dalang (lembaga donor dan gerakan advokasi global)-makelar isu (Jatam, Walhi, dan lembaga sejenis)-operator lapangan (tokoh-tokoh lokal atau yang dikreasi menjadi tokoh)-para penumpang dan penunggang isu (biasanya politikus-aparat-pengusaha lokal-oportunis bertopeng aktivis, LSM, bahkan wartawan)-korban (mereka yang sekadar dikerahkan menjadi pendukung dan penggembira).

Siapa para dalang itu? Jawabannya mudah: minta Jatam dan Walhi sebagai makelar isu mentransparansi sumber dananya, dengan segera yang abu-abu dan kira-kira akan menjadi terang dan jelas.

Sekarang operator lapangan serta penumpang dan penunggang. Para korban yang sekadar ikut-ikutan, dengan hormat dimaafkan saja. Tidak tahu buat apa harus turut berteriak, bahkan histeris berhadapan dengan yang disebut “antek tambang”, cukup alasan mendatangkan iba dan kasihan.

Ini bukan bisik-bisik. Membaca lagak dan gaya para pemeran drama tenda perlawanan geolistrik, gampang ditunjuk: operator lapangan Poktolak tak lain Vivin Agustin dan Fitri. Kades Sumberagung dan Kadus Pancer. Dalam soal akting, Vivin jauh lebih piawai memainkan peran. Dia mampu menunjukkan relasi baik dengan BSI, sekaligus tetap diterima sebagai bagian dari gerakan Poktolak. Moralitas dan etika politik (juga kekuasaan) yang unik, sebagaimana ganjil karirnya hingga mencapai kursi Kades.

Fitri, yang terilusi imajinasi aktivisme dan kepahlawanan, lebih amatir dengan seolah-olah menarik garis tegas dan menempat diri di “kami” (Poktolak) berhadapan langsung dengan “mereka” (BSI dan semua yang dituduh sebagai antek tambang). Pilihan posisi Fitri ini membuat dia sangat mudah dipatahkan—makanya Mbah menilai sikap BSI yang tetap mempersuasi Fitri adalah goodwill sia-sia. Bagaimana orang bisa mempercayai aktivis anti tambang yang juga Kadus sementara PETI bebas ria di dusunnya, bahkan mengolah batuan emas dengan merkuri di dekat kediamannya. Apa pula kata dunia jika dibeber, bahwa ketika dia menuding-nuding BSI dan antek-anteknya sebagai “penjahat lingkungan”, di saat yang sama matanya rabun dan meluputkan kakaknya (Sundari) adalah DPO kasus penyelundupan benur.

Bersama dua tokoh (atau yang ditokohkan) itu, penumpang dan penunggang bersuka ikut serta seperti Zainul Arifin atawa Ari Nasdem. Sosok ini adalah pendatang yang mengoperasikan homestay dan menjajakan minuman beralkohol (patut dicek dua usaha ini tak berizin dan karenanya pasti tak taat pajak pula), yang motifnya berkaitan erat dengan politik. Kendati jualannya gagal pasar dengan tak terpilih di Pemilu 2019 lalu, dia masih cukup gigih menjadikan penolakan terhadap BSI sebagai komoditas.

Ada pula Miswati alias Bu Mis di daftar para pengail di air keruh aksi Poktolak. Dia juragan ikan, cukong benur, merangkap bank pertikelir (risih juga menyebut “rentenir”) pemberi utang pada warga yang berprofesi sebagai buruh nelayan. Utang ini menjerat dan membelit, membuat kebanyakan korbannya tak bisa berkelit ketika dikerahkan mendukung aksi Poktolak. Di lingkaran dekat Bu Mis—ini pula yang tak langsung menautkan dia dengan Fitri—ada Sundari, Rusdi PETI (sebab memang pemain tambang ilegal), dan Sholeh (kakak iparnya yang DPO penyelundupan benur). Tentang motif Bu Mis, sudah jelas peluang ekonomi. Tidak lebih dan kurang.

Sebangun dengan Bu Mis, ada Narto dari Templek yang lagi dicaci karena penipuan di transaksi pembelian buah naga; Dayat, warga Sumbermulyo, pengangguran yang mengincar peluang Kelompok Tani Hutan (KTH) di areal IPPKH BSI; Edi Lasmono, Ketua KTH, yang baru-baru ini jadi pemberitaan media lokal karena terlanjur menarik pungli dan memasang patok di area yang masuk konsensi BSI; serta Yunus sang meong Blambangan yang dugaan kasusnya siap meledak seperti petasan ronce (mulai saat ini dia mesti waspada dengan koperasi).

Jika dilihat lebih cermat, orang-orang dalam daftar itu ternyata punya kemiripan sangat dekat: semuanya layak masuk daftar public enemy. Perewa yang tanpa malu menuduh pihak berseberangan sebagai bajingan.[]

TANGGAPI