DI BALIK riuh aksi Kelompok Tolak Tambang (Poktolak) yang sejak Oktober 2019 bikin ramai Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Banyuwangi, menentang geolistrik (bagian dari langkah-langkah eksplorasi) BSI di Lompongan dan sekitarnya, ada isu gawat yang tampaknya sengaja diabaikan. Masalah mustahak ini berkaitan dengan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Sudah menjadi pengetahuan umum, sejak akhir 1990-an, hutan di bawah pengelolaan Perhutani di Tujuh Bukit dan sekitarnya tak luput dijangkiti demam emas. Bermula dari “konon” ada yang menemukan emas sebesar anak kambing, sekejap orang ramai masuk hutan dan mulai menggali lobang. Asal ada warna kuning di batuan, termasuk pirit (pyrite atau sulfida besi—FeS2—yang sering juga disebut sebagai “emas palsu”), langsung diserbu dan diolah.

Jangankan praktik menambang yang baik dan benar, aturan hukum pun tak segan diterabas mereka yang panas-dingin digoda disilau logam mulia itu. Alhasil, sudah melanggar wilayah Perhuni, merusak hutan, para PETI juga mempolusi diri dan lingkungannya karena menggunakan air raksa (merkuri atawa Hg) dalam memproses emas dari batuan yang digali.

Perhutani bukan tak pernah bereaksi. Bersama aparat berwenang, Perum ini menggelar penertiban sekitar 2009 hingga 2013. Tapi setelah itu senyap. Lagipula, PETI akhirnya beramai-ramai pindah ke wilayah Salakan, Lompongan, dan Gondoruwo—yang mudah diakses dari Dusun Pancer—karena areal Tujuh Bukit secara hukum masuk konsesi tambang BSI.

Lalu BSI akan melakukan geolistrik di Lompongan, mengusik Poktolak (yang ideologinya “pokoknya tolak penambangan”) dan secara langsung mengancam praktik para PETI. Saat ini berapa jumah mereka yang beroperasi di kawasan itu? Tak ada keseragaman data, baik dari Perhutani, BSI (terutama di area IUP-nya), atau institusi berwenang lainnya.

Tapi sebagai dugaan, “katanya” terdapat tak kurang 200-an lobang tambang PETI di Salakan dan sekitarnya; yang melibatkan sekitar 400–600 penambang (tergantung musim) emas ilegal. Semuanya menggunakan merkuri untuk mengekstraksi emas dari batuan yang ditambang.

Gile bener! Sudahlah soal kerusakan akibat perambahan hutan dan penggalian sembarangan yang dilakukan PETI; tapi bagaimana dengan cemaran merkuri?

Rayuan kilau emas memang bikin gelap mata. Para PETI tak ambil pusing ngerinya horor merkuri yang sudah terjadi di banyak tempat (yang kontemporer mulai dari tragedi Gunung Botak di Pulau Buru hingga terkini di Mandailing Natal, Sumatera Utara).

Ironisnya, masyarakat luarlah, utamanya media, yang cemas terhadap kenekatan (dan ketololan para PETI di Indonesia). Pada 30 Desember 2019, media pretisius dan kredibel, New York Times (NYT), bahkan menurunkan artikel In Indonesia, Outlaw Gold Miners Poison Themselves to Survive. Mengutip seorang penambang ilegal di Sumbawa, NYT menulis, “I have no worry about mercury. I drank it. We gave it to the cows and buffalos. They drank it. Nothing happened. There’s no problems (Saya tidak khawatir tentang merkuri. Saya meminumnya. Kami memberikannya kepada sapi dan kerbau. Mereka meminumnya. Tidak ada yang terjadi. Tidak ada masalah).”

Apakah kekhawatiran seperti yang diekspresikan NYT tiba juga di Dusun Pancer, ke Poktolak yang Kamis, 16 Januari 2020, masih menggelar drama membentang kain rentang dengan huruf raksasa menolak aktivitas eksplorasi di Salakan dan sekitarnya; serta aktivis dan organisasi advokasi pendukung mereka seperti Jatam, Walhi, dan LBH? Saya tidak yakin. Telah menjadi pengetahuan umum pula, Poktolak dan para penyokongnya hanya senang dan jatuh cinta pada pikiran dan omongan sendiri.

Mereka tak ambil pusing bahwa hanya menyoal operasi tambang legal sembari buta-tuli-pekak terhadap PETI adalah sikap sangat amoral dan tak bertanggung jawab. Apalagi kemudian aktivitas Poktolak menentang geolistrik ternyata juga diikuti mereka yang telah diidentifikasi dan terbukti sebagai PETI. Maka, tak tabu pula, dalam soal praktik dan teror PETI—termasuk di Salakan, Lompongan, dan Gondoruwo—, yang berakal sehat dan waras menyimpul: Jatam, Walhi, LBH, dan bahkan Poktolak, tak beda dengan “anjing terbirit melipat ekor”.

Ompong, ketakutan, tak punya nyali, dan tak punya daya.[]

TANGGAPI