Penyu Mati, BSI Biadab!
Foto: ILIR 7 - Salah Apa Aku (Official Music Video)

DUA ekor penyu menggeletak di pasir pantai Pulau Merah. Mati.

Gambar-gambar dua hewan laut—di film-film Walt Disney fauna ini kerap jadi tokoh cute dan menyenangkan—itu dengan cepat beredar, terutama lewat grup WA. Termasuk ke ponsel Mbah. Reriungan dengan beberapa kawan di Jajag yang sedang seru-serunya, terpaksa mesti ditinggal.

Penyu, yang sudah masuk daftar terancam dan dilindungi, ditemukan mati, jelas mengundang keingintahuan. Apalagi Mbah termasuk pengagum penyu. Mereka, yang lambat di darat tapi berubah jadi perkasa penunggang arus di laut, sejak menetas sudah menunjukkan daya juang petarung. Hanya tukik gigih dan beruntung yang lolos dari lubang tetas di bawah timbunan pasir, predator, serta ancaman kematian alamiah lain, sebelumnya akhirnya mencapai laut. Setelah itu, bayi penyu harus berkelit dari segala marabahaya hingga jadi penyu remaja, lalu dewasa.

Di masa dewasanya (yang panjang jika tak keburu disambar kematian, termasuk pemburu yang membawa hewan ini hingga jadi sajian di meja makan) penyu terus-menerus menjelajahi lautan, tapi selalu kembali ke tempat di mana dia ditetaskan. Jika betina, pulang berarti menandai siklus yang baru: bertelur, menimbun dengan pasir, dan meninggalkan nasib generasi penerusnya di sirip sendiri.

Belum ketahuan benar apa penyebab tewasnya dua ekor penyu yang “katanya” pertama kali ditemukan oleh seorang surfer. Apa pun itu, sebab tersambar baling-baling kapal, terjerat jala nelayan, memakan kantong plastik (yang dikira ubur-ubur), atau bahkan bengek karena laut sudah terpolusi parah, Mbah merasakan kesedihan yang dalam. Sama gundahnya tatkala mendengar bisik-bisik yang mengaitkan operasi tambang di Tujuh Bukit terhadap kematian dua hewan itu.

Dengan orang dungu, hanya dua reaksi yang pantas: sedih atau justru geram. Buat Mbah, lebih pada masygul sebab mereka yang dungu sebangun dengan burung bersayap indah tapi tak mampu terbang.

Tensi yang sedang meninggi dipicu gerakan Poktolak Tambang yang saat ini gigih menghalangi geolistrik di Lompongan; yang sejak lama memang menempatkan posisi mereka sebagai lawan BSI—dengan segala alasan—; membuat apa pun yang terjadi di sekitar Tujuh Bukit gampang dikait-kaitkan dengan operasi tambang. Sial buat BSI, penyu yang mati itu terjelepak di pantai Pulau Merah. Hanya sepelemparan batu dari salah satu gerbang akses ke tambang Tujuh Bukit.

Lebih celaka, orang-orang yang kepalanya sedang mendidih dipenuhi praduga, mudah dicecoki apa saja, termasuk yang irasional. Celetukan seperti, “Tuh, kan, ada penyu yang mati gara-gara limbah BSI”, bikin Mbah nyaris melabrak yang bicara. Untung akal sehat masih di kepala. Apa pula urusannya Mbah mesti bereaksi? Biar BSI, yang jajarannya juga kadang-kadang bikin jengkel, yang membela diri mereka sendiri. Mereka sudah dibayar cukup untuk mempertahankan periuk nasinya.

Maka Mbah dengan takzim tetap tutup mulut sekalipun mendengar pisuhan, “BSI biadab!” Cukup keras mengalahkan bunyi ombak untuk didengar orang-orang sekitar, yang segera melintaskan dugaan di benak: kalau bukan anggota Poktolak, yang mencerca minimal simpatisannya.

Bahkan setelah puas melihat orang-orang baik mengurusi penyu mati dan menepi ke warung dekat gerbang masuk pantai Pulau Merah menyesap es teh manis yang bikin ser-ser, Mbah masih susah payah mengembalikan kewarasan akibat mendengar makian “biadab” itu. Indoktrinasi dan setan apa yang sudah ditanam di batok Poktolak (atau simpatisannya) hingga apa pun yang buruk, telah terjadi atau yang mungkin termakbul, langsung dikait dan ditimpakan ke BSI.

Sungai Katak menggelontorkan sedimen ke laut pada 2015, BSI sontak panen tudingan perusak lingkungan. Barangkali memang benar, karena saat itu perusahaan ini sedang mengkonstruksi tambang Tujuh Bukit dengan menebang pohon, membuka lahan, dan mendirikan aneka infrastruktur. Tatkala hujan turun deras, tanah tergerus, masuk Sungai Katak, dan akhirnya berlabuh di perairan Pulau Merah. Membuat laut seperti kopi susu.

Tapi lalu ada tuduhan (terang-terangan) BSI membuat panen gagal karena mempekerjakan dukun yang membuat berbulan-bulan hujan tak turun di Tujuh Bukit dan sekitarnya. Bila ada balian sedahsyat itu, maka semestinya dia mampu pula melakukan yang sebaliknya: membuat hujan tumpah tiada henti. Jika demikian adanya, Banyuwangi harus jadi eksportir pawang hujan ke negara-negara Afrika dan Timur Tengah yang kerap mumet karena kekeringan. Yang dalam setahun hujannya hanya turun dalam hitungan jari tangan dan kaki.

BSI disabotase ke Lompongan dan wilayah Salakan umumnya sebab sangkaan bakal merusak lingkungan, sumber air warga, tempat berlindung dari tsunami, dan bahkan mata pencarian sehari-hari. Tudingan seperti ini jelas pikiran edan; karena di saat bersamaan Poktolak mengaminkan illegal mining, illegal logging, dan macam-macam tindak pidana terhadap hutan dan lingkungan. Atau apakah Kadus Pancer, Fitri, Ari, dan mereka yang ge-er merasa tokoh Poktolak, mempicekkan mata dan otaknya terhadap segala cela itu karena para pelakunya adalah juga anggota dan pendukungnya?

Di titik pikiran itu, Mbah beroleh kesadaran: tak akan kaget kalau satu saat ada yang meninggal dunia akibat sakit paru lalu yang disalahkan BSI sebab memproduksi debu di tambang. Ada yang wafat karena serangan jantung, yang berdosa BSI sebab suara alat beratnya bikin kaget. Atau bahkan ada yang berpulang lantaran depresi dan gantung diri, yang mesti menanggung BSI gara-gara bikin orang jadi stress.

Pikiran kosong dan prajudis memang biadab. Pula bengis.[]

TANGGAPI