Paini, Sang Idol Anti-Tambang

BEBERAPA hari terakhir Poktolak Tambang naik daun lagi. Kunjungan Komnas HAM, Aksi Kayuh Sepeda, dan terakhir lawatan Komisi IV DPR RI, bikin mereka jadi sorotan, sekaligus sepi dan inflasi perhatian.

Musababnya, menurut Mbah, selain isu yang diusung makin terbukti murahan, karang-karangan, dan tak konsisten; juga karena kredibilitas tokoh-tokoh utamanya sungguh meragukan. Termasuk, yang kali ini Mbah bicarakan, Paini yang memang kurang menonjol dibanding, misalnya, Fitri (Kadus Pancer), Ari ilegal (pendatang yang mengelola homestay A Red Island), Dayat, atau Narto. Tapi dalam urusan bohong dan keras kepala, derajat mereka sama. Bahkan jika faktor ngawur ditambahkan, Paini justru unggul dua jempol.

Kapan Paini, warga Templek (bagian dari Dusun Silirbaru, Desa Sumberagung) mantan TKI di Arab Saudi yang sempat berbisnis gorengan dan sekarang menyewakan tempatnya untuk usaha cuci sepeda motor, bergabung dalam gerakan Poktolak? Ada yang bilang, dia memusuhi PT BSI (dan sekarang juga PT DSI) sejak keponakannya, Lela, ikut antitambang.

Di BSI, khususnya berkaitan dengan program yang ditangani seksi Community Affairs, Lela bukan orang asing. Dia adalah salah satu penggiat literasi dan pendidikan di TBM Sophia (yang didukung BSI), bahkan sempat melamar jadi karyawan dan gagal. Kandas berseragam perusahaan, Lela banting setir turut Poktolak. Langkah Lela ini rupanya diikuti bibinya, Paini, yang kemudian malah lebih progresif dan menonjol dibanding ponakannya.

Mbah mulai tertarik mengamati radikalnya Paini sewaktu Poktolak didukung Walhi Jatim menggelar aksi memprotes penghargaan pengelolaan lingkungan yang diterima BSI dari Gubernur Jatim. Di aksi di depan Kantor Gubernur Jatim, Kamis, 1 Agustus 2019, Paini dengan lantang berorasi mengata-ngatai Gubernur sebagai “pengecut”. Untung serapahnya dianggap angin lalu dan Paini melenggang dari dugaan tindak pidana.

Aksi berikutnya yang juga menarik dicelik dia pertontonkan saat karyawan operasi tambang Tujuh Bukit bergerak, Senin, 25 November 2019, gara-gara Kades Sumberagung bikin surat rekomendasi pancabutan IUP BSI. Demo para pekerja perusahaan ini dihadang pendukung Poktolak yang bahkan memasang kain rentang di sepanjang jalan depan Kantor Desa. Saat itu, Paini tampil aktif memberi pernyataan ke media, juga tak segan meneriaki dan menantang rombongan karyawan BSI adu mulut.

Peran aktif Paini juga sangat tampak saat di awal-awal Poktolak mendirikan tenda di ujung Dusun Pancer sebagai markas penghadangan geolistrik BSI. Dia dengan perkasa berada di barisan terdepan provokasi (dan caci maki) terhadap para pekerja geolistrik. Pokoknya, di antara perempuan-perempuan Poktolak yang menonjol, dia layak didaulat sebagai panglima ketimbang Fitri yang lebih pintar main politik dan Bu Mis yang motifnya pada kepentingan ekonomi. Dia adalah idol yang aksi-aksinya patut dinanti.

Cuma, Paini juga cacat berat dalam perkara kredibilitas. Masalah serius ini lebih karena pengetahuannya yang terbatas dan hanya didukung kenekadan, khususnya dalam mengarang-ngarang yang akhirnya jatuh sebagai dusta.

Kebohongan Paini itu, lucunya, dibeli kontan wartawan-wartawanan dari media-mediaan. Salah satunya bisa disimak dari unggahan situs Forum Jurnalis Republik Indonesia, Selasa, 12 November 2019, Derita Warga Dimalam Hari, Akibat Asap Debu Peledakan. Perkara yang dikedepankan Paini adalah asap debu (begitu terminologi yang digunakan) peledakan oleh BSI di tambangnya, yang baunya menyengat dari siang hingga malam hari. Situs ini kemudian mengutip, “Semakin malam baunya semakin menyengat, Mas. Mau tidur aja saya sering pakai masker supaya tidak bau.’’ (Kutipan ini sedikit diperbaiki karena penulisannya ngaco)

Nah, kediaman Paini di Templek berjarak tak kurang 5 km dari pit tambang Tujuh Bukit. Bila debu dan bau amunisi peledakan yang dilakukan siang hari (sekitar pukul 12.00–13.00) masih terasa dan dibaui malam harinya, yang terpaksa membuat Paini mesti pakai masker, maka dia pasti golongan mutan yang berkualifikasi tinggi dan pantas didaftar jadi anggota X-Man.

Untuk mencapai jarak sejauh Templek, debu dan bau amunisi peledakan harus melewati camp BSI, Pulau Merah, Dusun Pancer, hingga Dusun Silirbaru. Kalau pun hanya debu, itu harus didukung angin yang khusus berhembus dan mengatur agar abu itu bertahan dan di malam hari tiba terus-menerus di kamar tidur Paini.

Paini ini sedang membicarakan debu dan bau akibat peledakan, sejenis jin yang mengganggu dia, atau halusinasi gara-gara gangguan pikiran? Anehnya pula, keluhan itu hanya datang dari Paini seorang dan sama sekali tak terdeteksi masyarakat yang berada dalam radius 1 km sekitar operasi tambang Tujuh Bukit.

Kibul seperti itu menjadikan Paini sulit ditakar layak dipercaya, pula mermbuat yang cukup mengenal kerap menggunjing dia memang sedikit “agak-agak”.

Paini itulah yang masih bertahan di Surabaya, menggelar demo di depan Kantor Gubernur Jatim bersama 11 loyalisnya sebagai kelanjutan Aksi Kayuh Sepeda yang disponsori Walhi Jatim. 12 orang ini, sebagaimana konferensi pers yang digelar Walhi Jatim dan LBH Surabaya, Kamis, 20 Februari 2020, akan mogok makan hingga Gubernur memberi perhatian terhadap tuntutan mereka. Kapan itu? Konon katanya mulai Senin, 24 Februari 2020.

Kita tunggu saja sandiwara apa lagi yang bakal ditampilkan Paini and the gang dengan aksi mogok makannya. Semoga seru, lucu, dan menghibur.[]

TANGGAPI