yunuswahyudi

Yang penting pidato, berapi-api, dengan diksi yang hanya dia yang tahu persis apa maksudnya.

ANDAI ini adegan di salah satu film Marvel Cinematic Universe, pastilah dia salah satu super hero yang siap beraksi.

Berkacamata hitam, syal, lengkap dengan brewok dan kumis, dua hari berturut laki-laki itu tiba di areal Dusun Pancer. Mendatangi kelompok yang sedang beraksi menolak pra eksplorasi di wilayah Lompongan. Dia tiba dengan menampakkan percaya diri melebihi puncak Tujuh Bukit. Flamboyan dan bergaya.

Melihat tampilannya, kebanyakan orang yang mudah silau bakal ternganga. Akan halnya mereka yang biasa bergaul di kalangan yang khatam aktivisme mudah segera menyimpul: yang tiba dengan menggempita-gempita seperti itu biasanya jenis “tong kosong bunyi banget nyaringnya”. Atau, lebih buruk lagi, social climber yang hanya punya satu resep biar eksis: bikin ricuh supaya jadi pusat perhatian.

Dan, ya ampun, memang demikianlah nyatanya. Begitu dia mulai menyampaikan pidato, tahulah kita ini jenis pahlawan kesiangan yang kecepatan mulutnya berbanding terbalik dengan isi kepala. Yang penting pidato, berapi-api, dengan diksi yang hanya dia yang tahu persis apa maksudnya.

Alih-alih mengundang kagum dan respek, lagak-lakunya justru bikin iba dan prihatin. Beginikah rupanya aktivis yang gagah berani mengklaim mewakili orang banyak? Provokasi dan petentang-petenteng kiri-kanan, seolah dengan suara keras—lebih mirip meracau ketimbang pidato—, gertakan preman terminal, dan lagak artis KW5 film-film aksi kacangan, bakal membuat publik (terutama semua pihak yang diserampang) jerih.

Alamak, dia perlu punya kamus, baca buku lebih banyak, dan belajar lebih keras biar tahu aktivis macam Chico Mendes—yang kematiannya menginspirasi KTT Bumi 1992 dan gerakan konservasi lingkungan global—lebih banyak berbisik daripada berteriak, apalagi mengaum.

Belakangan saya tahu namanya. M. Yunus Wahyudi. Lengkap dengan klaim alias yang diseram-seramkan: Harimau Blambangan. Pseudonim kocak dan narsis tingkat kronis karena di saat bersamaan di seluruh dunia harimau terbirit-birit dipepet manusia dan mesti diselamatkan ke cagar alam atau kebun binatang; bahkan sirkus. Menjadi sekadar tontonan yang mengingatkan bahwa dulu ada yang namanya raja hutan. Dulu sekali.

Saya kuatir, dengan tampilan flamboyan terpaksa (apa yang diharapkan dari KW5?) dan pekerjaannya yang (sejauh yang dapat ditelusuri) “aktivis saja”, sang Harimau Blambangan ini jauh dari raja hutan. Patut diduga, paling mungkin dan tepat, dia hanyalah raja hutang belaka.

Menelusuri lebih ke belakang, dapat dikuak si Yunus dengan tampilan mirip tokoh playboy kapiran di film-film India ini, ternyata pernah masuk bui karena lidah yang salah membelit. Betul kata para bijak: mulutmu harimaumu. Gara-gara otak kecil yang isinya terbatas, mulutnya dan lidahnya memaklumatkan racauan, maka terjerembablah dia dan perlu mendapatkan “pemasyarakatan” di Lembaga Pemasyarakatan (LP) agar tahu adab dan punya adat.

Menonton aksinya di tengah massa di Dusun Pancer, saya yakin si Yunus yang bukan pahlawan Marvel Cinematic Universe ini dalam waktu dekat bakal terjerat perkara lagi. Satu kali diterungku karena bualan berlebih, adalah kekhilafan. Dua kali? Muncung comberan! Di seluruh dunia, bahkan hingga ke bulan dan stasiun ruang angkasa, belum pernah ada salut, apalagi pengakuan pahlawan, untuk aktivis yang modalnya cuma congor bau saluran pembuangan.[]

2 KOMENTAR

TANGGAPI