Opera Sabun Vivin Agustin
(Tom & Jerry, karakter animasi karya William Hanna & Joseph Barbera)

POKTOLAK Tambang beraksi menghalangi geolistrik di Lompongan (jajaran perbukitan Salakan), Sumberagung, Banyuwangi. Salah satu tokoh utama penggalang unjuk rasa ini tak lain Fitri yang tak bukan adalah Kadus Dusun Pancer.

Seberapa besar sebenarnya kekuatan Poktolak, khususnya di Dusun Pancer, yang sejak 2015 dikenal gigih—setelah aktivis Jatam, Siti Maimunah, safari menggalang massa—menentang operasi tambang di Tujuh Bukit? Demi memuaskan keisengan, bersama beberapa warga, Mbah reriungan menghitung-hitung kekuatan pro dan kontra tambang. Sambil menyeruput kopi Kandangan (pahitnya menggelitik otak ) dikawani polo pendhem.

Dari sekitar 4.888-an jiwa penduduk Dusun Pancer (data bertarikh 2018 ini Mbah temukan dari pendataan seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang), yang ikut gerakan Poktolak dipastikan tak lebih dari 110-an warga. Itu pun sebagian besar (yang die hard-nya berkisar 20–30-an orang) hanya ikut-ikutan atau terpaksa turut sebab terikat kekerabatan dengan Fitri atau punya “urusan bisnis” dengan Bu Mis.

Bagaimana dengan kekuatan pro tambang? Saat ini, “katanya” yang langsung terikat kontrak kerja dengan PT BSI untuk geolistrik mencapai 130-an orang. Jumlah ini ditambah 150 sampai 200-an warga yang terang-terangan menyatakan dukungannya. Selebihnya, memilih netral dengan sesekali berada di kubu pro atau kontra, tergantung kepentingan apa yang sedang dikejar.

Yang lain, semacam Dayat dari Sumbermulyo yang kerap memaksa berperan aktif atau Yunus “meong Blambangan” Wahyudi yang mendadak mencuri peluang main pahlawan-pahlawanan pembela rakyat Banyuwangi, turut serta karena kepentingan-kepentingan personal dan sesaat. Komoditas dan modal mereka cuma pidato, provokasi, dan klaim. Tinggal tunggu saja waktunya terpeleset dan nanti mewek-mewek lagi di Kantor Polisi, ujungnya merenungi jidat dikepung dinding terungku.

Tapi kemana si meong Blambangan, ya? Sejak selesai bikin teater 15 menit (melaporkan ujaran kebecian kok hanya seperokokan?) di Polresta Banyuwangi, wujudnya mendadak menghilang. Apa sudah dikejar-kejar koperasi dan terpaksa lari sambil melipat ekor?

Sedang seru-serunya mengulik peta warga Pancer yang pro dan kontra tambang, tiba-tiba ada interupsi. Salah satu ahlul diskusi menerima broadcast link berita Kades Sumberagung Tanggapi Santai Namanya Disentil “Mbah Kangkung”. Sebagian hadirin tertawa, yang lainnya mesam-mesem, dan kian lebar ketika beritanya disampaikan agar disimak dengan takzim oleh hadirin.

Dan tawa pun meledak tatkala kutipan Kades dibaca (Mbah terpaksa memperbaiki kalimatnya karena tulisan asli berantakan, menanda yang bikin belum lulus sertifikasi profesi): “Saya ini ibarat orangtua bagi semua warga, Mas. Jadi saya harus bisa momong semuanya. Baik kepada warga yang pro maupun yang tolak tambang.” Luar biasa bijaksana dan amat cerdas ngelesnya. Lebih lincah dari bajaj di jalanan sempit.

Mbah sudah bilang, kan? Bila dia artis, minimal Vivin Agustin layak diperhitungan dapat Piala Citra. Aktingnya sungguh meyakinkan, sampai-sampai kita (barangkali dia sendiri juga) tak bisa membedakan kapan dia berbohong dan kapan benar-benar sincere.

Sini Mbah kasih dua contoh yang bisa digunakan menakar politikus (lokal) macam apa Vivin ini. Satu, dia menandatangani surat rekomendasi pencabutan IUP BSI (saat itu Senin, 25 November 2019) dengan alasan ada tekanan dan pemaksaan dari Poktolak. Hampir semua orang membeli kontan alasan ini—Mbah tidak yakin anak-anak muda pintar di BSI terpengaruh. Mereka mungkin belia dan tampak culun, tapi untuk mencapai kursi manager dan senior manager, kapitalnya bukan hanya bisa komputer dan bikin surat.

Ada beberapa kelemahan mendasar kilahan Vivin: Kejadiannya di Kantor Desa, hingga apa susahnya dia menelepon Polsek—yang jaraknya sepelemparan batu—, minta perlindungan. Lucunya, konsep surat rekomendasi sudah pula disiapkan oleh Dayat (drafnya belakangan beredar ke mana-mana), yang 1.000% tidak kurang bukan warga Sumberagung. Hanya Kades dungu tanpa ampun atau pemain politik lincah (walau masih pemula) yang bersedia tunduk bongkokan di situasi seperti itu dan “terpaksa” menandatangani surat yang jelas bukan kewenangannya.

Hanya menghitung hari sandiwara surat rekomendasi itu berakhir sebagai tamparan. Semua orang tahu, Vivin dan Poktolak sedang main drama. Musababnya, mereka yang berkonspirasi (terutama Kades Vivin) abai terhadap kebiasaan para pengklaim aktivis di daerah ini yang mulutnya mirip toa. Tak ayal, terungkap kemudian (dari mulut mereka sendiri), sebelum ramai-ramai sandiwara pemaksaan tanda tangan surat rekomendasi, ternyata ada rembuk antara Vivin dan operator Poktolak. Mau Mbah buka semuanya dengan menunjuk hidung sesiapa mereka itu?

Dua, pernyataan Kades Vivin di depan orang-orang Poktolak saat pertemuan dengan Kapolresta Banyuwangi di “tenda perlawanan” mereka. Terang benar di rekamannya Kades tegas menyatakan, “Menolak Salakan ditambang!” Media, baik yang benaran maupun abal-abal, tidak usah mengusut maklumat ini, kecuali jika ingin menguji bagaimana (sekali lagi) penampilan ala opera sabunnya.

Itulah Kades Vivin yang tak surut pe-de di depan BSI maupun di hadapan Poktolak. Apalagi dia punya jalur khusus ke Gedung DPRD Banyuwangi. Tentang patron-klien ini, kapan-kapan Mbah buka juga deh.[]

TANGGAPI