Ngaku-ngaku? Nggak Penting!

DI BANYUWANGI ada kebiasaan menggelikan dari mereka yang menganggap a.k.a merasa dirinya penting. Yakni, yang diekspresikan dengan pernyataan klaim: “kalau bukan saya”; “itu karena saya”, dan sejenisnya.

Biasanya, berhadapan dengan orang songong yang bicara demikian, Mbah hanya kasih senyum lebar. Tak apalah. Merasa penting, bila itu menyenangkan hatinya, kita ikhlaskan dengan penuh syukur. Bahwa yang bersangkutan tidak mampu mengukur, apalagi memeriksa diri di cermin, adalah soal lain.

Itu sebabnya Mbah tidak terganggu tatkala menemukan ada capture WA dengan wajah Mbah di profile picture-nya di facebook Achmad Ali Waffa. Mbah malah heran, kok baru sekarang ada yang ngaku-ngaku, ya? Yang lebih mengherankan lagi, yang membeli jualan leceh itu tak kurang dari Wakil Sekretaris Gerindra Banyuwangi. Pendek betul akal dan logikanya.

Mengaku-ngaku dengan WA ber-profile picture Mbah jelas tindakan bodoh. Sekali klik nomor telepon yang digunakan bisa ditelusuri atas nama siapa. Bahkan, dengan menggunakan tracking software terbaru Mbah mampu mengetahui di mana lokasi imitator dungu ini dengan tepat. Cerdas, kata orang bijak, bisa dibawa sejak lahir. Akan halnya dungu, biasanya akibat terlalu ambisius, terlalu serakah, dan terlalu-terlalu yang lain.

Jadi, yang mengaku-ngaku sebagai Mbah yang lalu disadur Ali Waffa di facebook-nya, Anda didoakan dengan penuh kasih agar mampu mendapatkan apa yang sungguh-sungguh diidamkan. Apa pun itu. Sambil, Mbah nasihatkan: tersebab Mbah selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar (tampaknya sekolah zaman dulu mendidik murid-muridnya lebih berkualitas), besok-besok sebelum menyaru, pelajari saksama peri dan laku yang ingin dikloning. Biar sedikit mendekati yang diimitasi dan tidak keliru perkara sepele semacam penggunaan tanda baca.

Bila berkenan, Mbah akan mendonasikan dana kursus atau pelatihannya.

Cukup sampai di situ urusan dengan penyaru yang bahasa Indonesia di STTB-nya pasti tak lebih dari poten 6.

Kini soal Ahmad Ali Waffa. Andai dia ada di hadapan saat tulisan ini dikemas, Mbah akan sukarela menepuk-nepuk pundaknya. Melihat rekam jejaknya, dia adalah tipikal anak muda ambisius, merasa penting, kelebihan energi, sekaligus di saat bersamaan sama sekali tak dianggap oleh sekitar. Coba tengok: di masa kuliah, konon (mudah-mudahan info ini benar) dia pernah terpilih sebagai ketua organisasi PMII Banyuwangi. Ketua organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan NU, di wilayah di mana NU adalah organisasi yang dihormati dan kredibel, adalah modal sosial yang patut dijempol.

Tapi entah karena keterpilihan itu sekadar anomali, kecelakaan sejarah PMII, atau sebab dia adalah satu-satunya kader buruk di antara yang sangat buruk, setelah itu karir organisasi dan aktivismenya menurun konstan. Di saat rekan-rekan seangkatan (sesama Ketua PMII di eranya) sudah mencatat aneka prestasi, Ali Waffa cukup puas sebagai tenaga ahli anggota DPR RI (jelas ini pekerjaan lucu-lucuan, sebab artinya kurang lebih “orang yang disuruh-suruh oleh anggota dewan yang terhormat”) dan Wakil Sekretaris Gerinda Banyuwangi. Praktis bukan siapa-siapa, tidak pula ke mana-mana.

Tidak pula dia mendapat sedikit saja perhatian (yang amat dirindukan) kendati di facebook-nya Ali Waffa dengan gigih dan penuh semangat mengomentari isu apa saja yang tengah hot. Termasuk operasi tambang PT BSI di Tujuh Bukit.

Salah satu komentar yang diunggah Ali Waffa ini adalah golden share Pemda Banyuwangi di induk BSI, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MCG), yang dia haqul yakini sebagai tipu-tipu saja. Masya Allah, ini anak sekolah di mana dan hidup di zaman apa, ya? Memangnya susah (mengingat di facebook-nya dia mengaku hidup di Jakarta dan jadi tenaga ahli anggota DPR RI, maka pasti berkantor pula di Senayan) mampir ke BEI dan mengkonfirmasi kebenaran saham Pemda Banyuwangi di MCG?

Tenaga ahli kok sama sekali tidak menunjukkan kejauharian apa-apa, kecuali kecakapan mempertontonkan ketololan. Celaka benar anggota DPR RI yang mempekerjakan Ali Waffa ini. Sekalipun sekadar tukang jaga meja depan ruang anggota dewan yang terhomat.

Mbah, tentu saja, pasti luput dari jentaka akibat fitnah penyaru yang lalu disebar Ali Waffa di facebook-nya. Sebab, dalam isu ini, hanya ada dua otak udang yang ingatannya tumpul akibat terlampau bergairah ingin meluaskan hasut: imitator yang jauh dari cakap dan Achmad Ali Waffa yang dahaga perhatian dan kelihatannya punya dendam membara ke BSI.

Selebihnya, terutama kawan-kawan facebook Ali Waffa, niscaya mendaras unggahan itu sembari terbahak. Tentu kita tahu persis makna dari tawa mereka.[]

TANGGAPI