Wartawan Media Abal-abal

GARA-GARA berdebar baca berita dan senja di pantai Pulau Merah yang bikin bungah, terbitlah iseng mencari tahu dua media siber (satu beralamat Bekasi, yang lain mirip organisasi hantu: tak berwujud) pemublikasi tekad Yunus melaporkan Mbah ke pihak berwenang. Astaga! Informasinya hampir membuat terjerembab dari kursi leyeh berpemandangan Samudera Indonesia.

Untunglah, walau masuk definisi aki-aki, Mbah belum tergolong uzur. Kendati, tak urung air kelapa muda yang dipangku memercik, berleleran membasahi t-shirt dan celana.

Situs Radar Nusantara ternyata tidak terdaftar dan diverifikasi sebagai media siber di Dewan Pers. Rasa klobot yang biasanya gurih pun langsung pahit di mulut. Ganti wasangka yang terbit: jangan-jangan situs ini adalah satu lagi tempat berhimpunnya para tukang tipu yang mengaku-ngaku wartawan.

Berprasangka boleh saja. Apalagi kemudian di tautan redaksi dipajang: Diterbitkan oleh PT Media Tama Sarana Informasi dan PT Nadya Radar Nusantara. Penerbit? Dua pula. Memangnya yang dipajang di situsnya adalah digitalisasi edisi media cetaknya? Lebih ajaib, di tautan yang sama dicantumkan rekening PT Nadya Radar Nusantara tapi atas nama Yayasan Radar Nusantara Peduli.

Luar biasa menggelikan. Tipu-tipu yang mengena jika sasaran tak cermat. Dan di negeri ini masih bejibun yang banyak pilong begitu digertak dengan: ‘’Saya wartawan!’’ Dalam soal ini tak gentar tengkingan, Mbah yang cuma lulusan SLTA boleh menepuk dada: modus media-mediaan dan gaya-gayaan wartawan seperti begitu sih sudah zaman old punya. Receh!

Tapi, Radar Nusantara agak sedikit lebih baik dibanding Ekspresi.id yang ternyata blog belaka. Tidak memerlukan waktu semenit untuk tahu sebegitu pandirnya pengelolanya hingga bahkan tidak tahu bagaimana menyembunyikan template yang digunakan; juga profil redaksi yang hanya memajang halaman kosong pemilik blog dan foto hantu.

Kepingin betul Mbah ketemu dengan orang yang mengaku-ngaku wartawan Ekspresi.id biar bisa menoyor kepala kosongnya dan menasihati: kalau hanya blogger, jangan mengaku-ngaku wartawan, apalagi pakai memajang tulisan yang seolah-olah liputan jurnalistik. Menipu pun, biar agak terhormat, tolonglah dengan menggunakan otak.

Jadi, teranglah sudah, Radar Nusantara dan Ekspresi.id bukan media siber. Karena bukan media sebenarnya, sesiapa pun yang mendatangi sumber berita atau hadir di satu peristiwa, lalu menyodorkan identitas atas nama situs dan blog ini dan mengaku jurnalis, pantas ditendang jauh-jauh. Bila perlu, laporkan ke pihak berwenang sebagai percobaan penipuan.

Fakta situs dan blog itu juga menyadarkan Mbah mengapa judul tulisan (haram hukumnya disebut berita) mereka tentang Yunus meong Blambangan akan mengadu ke pihak berwenang sebab keberatan dengan artikel di situs ini, begitu panjang seolah pidato pernikahan. Demikianlah memang mereka yang tidak mendapat pelatihan profesional, apalagi akreditasi wartawan, sebagaimana yang disyaratkan Dewan Pers.

Yang bikin semringah (sementara matahari perlahan tenggelam di Pantai Pulau Merah), karena Radar Nusantara dan Ekspresi.id hanya media-mediaan dan wartawannya cuma gaya-gayaan jadi pewarta, apa yang ditulis tentu tak masuk kategori produk jurnalistik. Tidak dalam lindungan UU Pers dan turunannya. Yang keberatan terhadap apa yang mereka tulis seolah-olah berita, monggo jangan ke Dewan Pers. Alamat yang tepat adalah Kantor Polisi sebab mereka memang masuk golongan kriminal potensial pelaku tindak pidana.

Mbah sendiri memilih mencibir dan mengejek saja. Bangsa badak, kuda nil, dan kerbau biasanya tak mempan jika tidak disetrum sampai kelengar.

Namun, Mbah berharap manajer atau yang bertanggung jawab terhadap hubungan dengan media (tidak terbatas) di BSI membaca artikel ini dan mendapat pencerahan agar besok-lusa tak lagi menanggapi media serta wartawan abal-abal Radar Nusantara dan Ekspresi.id. Kalau mereka tetap sok bekerja mereportase dan ditolak, lalu bereaksi seolah punya hak sebagai jurnalis, seret ke polisi.

Perkarakan biar kapok![]

3 KOMENTAR

  1. maksut dan tujuan penulisan ini apa ya? apakah hanya ingin menjatuhkan media? andaikata media tsb yang njenengan anggap itu tdk terdftar di dewan pers kalau itu memang berimbang dan tdk ada intimidasi dari pihak media tsb apakah jadi masalah? trs bagai mana kalau bloger yng lain banyak yg sejenis berita, itu bagai mana? knp harus 1 yayasan media saja yg di sebut

TANGGAPI