Buah Naga
Foto: DpiTeh

BEBERAPA waktu belakangan Mbah agak malas menulis. Kolaborasi musim hujan, masakan berkuah-kuah Mbah Tomat, serta isu di sekitar Tujuh Bukit yang itu-itu saja dan bikin enek, membuat penyakit malas subur sejahtera.

Tapi otak tua tetap mesti diasah. Ibarat arit lawas, harus selalu digunakan. Minimal buat merumput pakan kambing. Bila tidak, setelah beberapa jangka digeletak, langsung berkarat dan majal.

Kata orang, usia membuat pikiran kian bijaksana. Dan mengasah otak boleh pula tidak dengan duduk menekuri buku—Mbah punya koleksi bacaan yang cukup buat perpustakaan desa. Pesiar, melihat orang-orang dan aktivitasnya di seputaran Tujuh Bukit, kebun, bahkan ombak di Pantai Mustika, bikin benak bekerja.

Tersebab runtang-runtung, banyak bertemu dan berbincang, Mbah jadi tahu urusan sepele yang selama ini sengaja diluputkan. Misalnya, perkara buah naga (Mbah hanya menanam komoditas ini buat lucu-lucuan) dan hal-ihwal di balik pasang-surutnya.

Bahwa umum sudah mahfum Banyuwangi, khususnya wilayah selatan, adalah sentra buah naga, tentu tak perlu dibahas lagi. Sekalipun begitu, coba tanya: Dari mana asal-usulnya, mengapa dia mendarat dan akhirnya sukses jadi komoditas pertanian di Banyuwangi? Kebanyakan orang, bahkan pekebun suksesnya (khususnya) di Kecamatan Pesanggaran—salah satu pusat produksi buah naga di sekitar Tujuh Bukit—pasti terlongo-longo kebingungan.

Baiklah. Dikenal dalam bahasa Inggris sebagai pitaya, sejatinya dia adalah buah beberapa jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus. Mula-mula pohonnya adalah tumbuhan wilayah kering dan ditemukan di Amerika Tengah serta Amerika Selatan. Namun, konon yang sekarang mendunia, adalah yang berasal dari Meksiko.

Oleh orang Perancis, tanaman penghasil buah naga ini kemudian dibawa dari Guyana ke Vietnam sebagai tanaman hias pada 1870. Pengaruh budaya Cina di Vietnam membuat buah naga yang dianggap membawah berkah kemudian jadi hiasan altar sembahyang, diletakkan di antara dua ekor naga yang biasanya diwarnai hijau.

Kebiasaan itu pula yang melahirkan nama buah naga (thang loy dalam Bahasa Vietnam), yang lalu diterjemahkan menjadi dragon fruit dalam bahasa Inggris, dan di-Indonesia-kan mentah-mentah menjadi “buah naga”. Kapan buah ini berlabuh di Indonesia hingga tiba di Banyuwangi? Jawabannya, itu tadi: wajah melongo diiringi kedikan bahu.

Demikian pula dengan kapan ada yang iseng mencicipi buah naga dan ternyata enak, tidak bikin tewas keracunan, sama tak jelasnya dengan konon yang lain. Namun, katanya, orang Indian-lah yang pertama kali tahu buah naga bisa dikonsumsi. Enak dan menyehatkan.

Memang, bagi petani di sekitar Tujuh Bukit, buat apa mengurus asal-muasal dan tetek-bengek (mustahak tapi dianggap sepele) buah naga. Yang terpenting: bagaimana punya kebun buah naga yang luas, terus-menerus berbuah, dan mendatangkan duit melimpah ketika panen tiba. Persetan dengan sejarah, bahkan juga perilaku alamiah buah ini yang bunganya hanya mekar di malam hari.

Di lain pihak, eksotisme buah naga juga membuat orang Indonesia (yang suka gegar trend) berbondong menjadikan konsumsi yang diburu. Ruas ketemu buku. Beramai-ramailah lahan pertanian (termasuk hutan konsesi Perhutani di selatan Banyuwangi) dikonversi jadi kebun buah naga. Agar produktivitasnya meroket, segala cara digunakan: mulai dari menyinari kebun di malam hari (semakin luas kebun, bohlam dan listrik yang digunakan makin masif) hingga (nah, ini soalnya) memompa pertumbuhan pohon dan buahnya dengan hormon—populer dengan sebutan gibro (faktanya yang dimaksud adalahg “Biggrow” yang diproduksi oleh macam-macam perusahaan pupuk).

Penyinaran, katanya, biar buah naga berproduksi sepanjang tahun. Dihormoni agar buahnya bulat, gemuk, dan merah menyala. Bagaimana dengan rasa? Rasa ini adalah persoalan genting lainnya yang sekarang jadi masalah di kalangan petani buah naga di Banyuwangi selatan.

Dibanding yang organik (diurus dengan mengindahkan best practices pertanian dan sifat alamiah tanamannya), buah naga yang disinari dan dihormoni kehilangan rasa terbaiknya. Mirip makan puding tanpa saos. Akan halnya buah naga organik, lidah yang mampu membeda akan dimanja sedikitnya oleh dua sensasi utama: manis dan asam yang lamat-lamat.

Produksi melimpah ditambah kualitas rasa yang terjun bebas, dengan segera membuat buah naga dari Banyuwangi selatan kehilangan pesona. Bahkan sekalipun sudah dijadikan produk turunan (jus, dodol, atau keripik). Di musim panen (yang sebagian masih berlangsung) saat ini, harga buah naga hasil penyinaran ditambah hormon bikin petani mengelus dada. Mbah saja terbelalak tatkala diberi tahu satu pick up-nya hanya dihargai sekitar Rp 900 ribu.

Alih-alih untung besar, petani buah naga justru buntung hingga ke ubun-ubun.

Kabar baiknya, buah naga organik, walau harganya di musim panen juga turun, tapi tidak anjlok semerana yang disinari dan dihormoni. Masalahnya, sampai kapan para petani buah naga (khususnya di sekitar Tujuh Bukit) tetap keras kepala bertani dengan cara bodoh?

Ah, jawabannya mesti ditagih ke Pemkab Banyuwangi (khususnya Dinas Pertanian), akal sehat dan kewarasan para petani buah naga, dan hukum pasar yang biasanya sangat kejam. Yang jelas, hanya produk yang baik dan benar yang tetap diterima dan dibutuhkan pasar.[]

TANGGAPI