Lagak Pongah Tuan Ilegal
Foto: KabarJawaTimur.com

ADA pemandangan baru di Pantai Pulau Merah. Bikin ngakak, sebab bukankah sungguh banyol jika ada maling meneriaki copet sebagai pencilok?

Mbah memang tak mampu menahan kekeh tatkala melintas di depan homestay Mojo Surf Camp dan melihat ada portal yang baru dipasang berpapan warna hitam dengan rambu dilarang masuk bertulis: “Stop! Selain Tamu Mojo Dilarang Masuk.” Dari mana pengelola homestay ini mendapatkan hak melarang orang memasuki tempat yang dia sendiri tak punya kesahihan kepemilikan? Homestay-nya tak berizin, tanahnya milik Perhutani dan diduduki pula tanpa izin.

Ngono yo ngono ning ojo ngono. Meski sombong itu boleh, tapi tahu diri juga tak kurang pentingnya.

Memindai rekam jejak pengelola Mojo Surf Camp, Zainal Arifin alias Ari Nasdem (nama populernya di Pemilu 2019 lalu) dan macam-macam atawa lain yang boleh dilekatkan, serta kegemarannya petantang-petenteng, Mbah tidak heran kalau dia tak mampu menakar dan menempatkan diri sebagaimana umumnya orang sehat pikiran. Tapi melihat papan peringatan di portal homestay yang—katanya—hasil kongsi dia dengan pengusaha Australia, Mbah harus mengakui kepongahannya memang mencegangkan.

Belang Ari yang makin terkuak itu adalah buntut ulah sok pahlawannya dengan kerap bertingkah sebagai salah satu tokoh utama Poktolak Tambang. Mbah perlu kembali mengingatkan: melihat latar belakangnya yang cuma pendatang di Kawasan Pulau Merah (bahkan lebih belakangan dibanding dimulainya eksplorasi cebakan emas dan tembaga di Tujuh Bukit), satu-satunya motif aktivitasnya bersama Poktolak hanya bisa disyak semata demi kepentingan pribadi.

Lucunya, keriuhan pemberitaan homestay ilegal yang dia kelola segera disambut kompak buang badan dari pihak-pihak yang semestinya bertanggung jawab. Mbah benar-benar ngakak tatkala menemukan berita Kades Sumberagung pun Tidak Tahu Siapa Pemilik Homestay Mojo Surf Camp Pulau Merah yang diunggah situs Kabar Jawa Timur, Rabu, 5 Februari 2020.

Mau tidak terpingkal bagaimana? Di berita tersebut, yang mana Kades Sumberagung, Vivin Agustin, mengaku tidak mengetahui perizinan homestay itu (di lain pihak dia sudah mengeluarkan kebijakan semua orang yang datang sekadar bekerja, apalagi bermukim di Sumberagung harus diadministrasi oleh Pemerintah Desa), dipajang foto yang bicara sebaliknya. Foto apakah? Pose mereka berdua (tampaknya di ruang kerja Kades) dengan Vivin yang tersenyum dan Ari menampakkan ekspresi lega setengah tengil.

Sudah begitu, wartawan yang menulis beritanya juga dengan nakal mengutip peryataan Kades: “Kami belum bisa berkoordinasi. Kami tak ke yang bersangkutan dulu.” Oh, rupanya ada masalah koordinasi di sini. Apakah urusannya sedemikian rumit dan berkelindan hingga tak bisa ditindaklanjuti segera dan setelah itu ditutup foto bersama sembari mengacungkan dua jempol?

Setali tiga uang dan sebukuan, Camat Pesanggaran, Sugiyo Dermawan, buru-buru pula menampik tahu siapa pemilik Mojo Surf Camp. Pak Camat, kemana saja Anda sejak dilantik memimpin Pesanggaran? Apa kebanyakan ngombe bir sampai mata buram dan meluputkan ada homestay besar yang beroperasi dengan melanggar hukum di wilayah Anda? Atau Anda jerih karena lagak-laku Ari lebih Camat dari yang empunya jabatan?

Mudah-mudahan Kades Sumberagung dan Camat Pesanggaran segera mengambil tindakan. Paling tidak razia, kunjungan, atau apa kek. Kalau tidak, jangan baper bila tiba-tiba ada cibiran yang dilontar, “Kades dan Camat dapat bagian berapa untuk uang tutup mata dan akting tak tahu Mojo Surf Camp melanggar hukum?”

Sebagai penganut kepatuhan hukum, Mbah juga berharap Administratur Perhutani KPH Banyuwangi, Nur Budi Susatyo, jangan pula sekadar merepet dan berkilah menyesalkan adanya perambahan lahan di wilayah pemangkuannya. Dengan tidak mengambil tindakan apa pun, Tuan Administratur mengamini yang selama ini sudah menjadi pengetahuan umum: setiap tindakan pelanggaran di wilayah penguasaan KPH Banyuwangi, mulai dari illegal logging, illegal mining, hingga penggunaan lahan tanpa izin, melenggang bebas cukup dengan rupiah tertentu ke oknum Perhutani.

Rahasia umum bilang: negara akan tak berdaya di hadapan para bajingan bila pengurusnya adalah para pencoleng dan korup. Di Pesanggaran dan sekitar (juga umumnya Banyuwangi), Perhutani selalu tidak berdaya di hadapan para pelanggar, bahkan hanya sekelas Ari, politikus kemarin sore dan caleg gagal.

Nah, sebelum Mbah melantur dan menyenggol ke mana-mana (Pemda, polisi, dan otoritas berwenang lain), mari kita tunggu saja: jika tuan Ari homestay ilegal masih bebas juga dengan kegadukannya, maka jelas para durjana memang harus melindungi kawan bromocorahnya.[]

TANGGAPI