Kenyot Empeng Satpol PP
Foto: Erich Röthlisberger

LIAR dan ilegal masih digdaya di sekitar pantai Pulau Merah. Yang Mbah maksud tak bukan adalah operasi homestay yang dibangun seenaknya menduduki lahan Perhutani KPH Banyuwangi.

Dipicu atensi umum terhadap homestay A Red Island (Mojo Surf Camp) karena sepak terjang salah satu pengelolanya (konon pula pemilik berkongsi dengan pemodal asing), Zainal Arifin alias Ari Nasdem atawa Ari ilegal dan miras, karena lagaknya jadi salah satu tokoh Poktolak Tambang, perkara geladak dan haram ini melenggang tanpa sanksi. Perhutani yang tanahnya dikangkangi terkesan cuci tangan, aparat berwenang dan berwajib pun (setidaknya di tingkat desa dan kecamatan—termasuk Forpimka) sekadar berkunjung lalu bersikap “tahu sama tahulah”.

Malah serangan balik dan pembelaan yang kemudian bermunculan. Paling mencolok datang dari gerombolan yang sama liar dan ilegalnya, Jurnalis Karang Semanding (dengan) alias JKS, yang bahkan bikin video publikasi rapat pelaksanaan Hari Pers Nasional di Mojo Surf Camp. Tahu diri sedikit kek. Untung saja organisasi wartawan semacam PWI, AJI, atau IJTI di Banyuwangi agak oon. Coba kalau mereka pintar, yang menyaru-nyaru wartawan (sama seperti oknum yang mengaku-ngaku polisi atau tentara) bisa dilapor sebagai pelaku tindak pidana.

Ada juga organisasi yang cukup waras, misalnya Forsuba. Desakan agar homestay liar dan transaksi minuman beralkohol ilegal di sekitar pantai Pulau Merah ditertibkan, menunjukkan setidaknya masih ada warga Banyuwangi yang sadar bahwa setiap pelanggaran mestinya ditindak serius. Jika tidak, terus buat apa ada aparat pemerintah, polisi (termasuk Satpol PP), bahkan jaksa dan hakim.

Karena telanjur pesimis, Mbah sudah sampai pada simpulan, makhluk seperti Ari homestay A Red Island pasti punya beking kelas wahid. Dia bisa petantang-petenteng menuntut PT BSI (dan PT DSI) yang operasinya sah bongkokan, sembari melimbai santai mengoperasikan homestay tanpa selembar pun dokumen sahih.

Nah, biasanya hanya ada dua jenis beking yang ampuh: tokoh kuat (entah dia punya pangkat, kekuasaan, atau kombinasi keduanya); dan duit. Kalau karena topangan ketokohan, masak sih pemerintah dan otoritas yang bertanggung jawab terhadap negeri sebegitu ompongnya? Jika itu sebab duit, urusan rakus memang bikin pening dan speechless.

Tersebab itulah, Mbah hampir tak percaya ketika membaca unggahan situs berita terkemuka, detik.com, Rabu, 19 Februari 2020, Razia Miras di Homestay Pulau Merah, Satpol PP Banyuwangi Diadang Massa. Akhirnya, ada juga pihak yang berani menegakkan aturan. Satpol PP pula. Terus ke mana polisi yang semestinya sigap, terutama ketika miras ilegal yang terang-terangan diperjualbelikan di homestay A Red Island sudah jadi sorotan publik?

Apa polisi juga ikut-ikutan jadi beking? Apalagi bisik-bisik yang Mbah dengar bilang, Ari ilegal sering berkontak-kontak dengan Kapolresta Banyuwangi. Malah, di kalangan Poktolak, dia suka menyombong punya hubungan akrab dengan Kapolresta. Ciyee, begitu rupanya.

Di belakang Mbah Tomat yang sumringah liburan dan—sebagaimana emak-emak umumnya—bahagia masuk-keluar mal, melongok-longok gaun pesta (astaga, di Banyuwangi yang paling banyak dihadiri kan pengajian), Mbah menyimak berita mengejutkan itu. Valid belaka, di A Red Island yang dirumorkan berbisnis miras, ditemukan hampir 100 botol minuman beralkohol. Dari yang kadar cemeh hingga kelas berat.

Tapi, eh, tulis detik.com, Satpol PP yang tengah menyita miras A Red Island digeruduk puluhan orang (pengakuannya) Poktolak, menghalangi, dengan macam-macam tuduhan: kriminalisasi-lah, tidak adil-lah. Adu mulut dan pelototan berlangsung. Dan—ini yang bikin Mbah berjengit—Satpol PP melipat ekor, mundur tanpa perlawanan.

Detik.com menutup beritanya dengan menulis: Tak mau dibenturkan dengan warga, Satpol PP terpaksa mengembalikan miras ilegal hasil razia. Antiklimaks yang semestinya menampar Satpol PP khususnya dan Pemda Banyuwangi umumnya. Aparat yang berwenang menegakkan aturan (di lingkup kewenangan Pemda) ditekuk sekali pites oleh komplotan yang tak jelas juntrungnya.

Satpol PP Banyuwangi perlu belajar ke sedulur-nya di daerah lain, yang pantang mundur menegakkan aturan. Memalukan! Pramuka Siaga tampaknya lebih berani dan gigih ketimbang Satpol PP yang gampang letoi, menyerah seperti serdadu patah hati dan kurang asupan gizi.

Demi penghiburan, Mbah akan mengirimkan empeng ke markas Satpol PP Banyuwangi. Buat balita, mengenyot empeng bisa meneduhkan. Lagipula, apa yang diharapkan dari pasukan yang kalah telak?[]

TANGGAPI