Kemenyan, Jampi, dan Dungu Berkelanjutan
Foto: Poster Film "Bing Slamet Dukun Palsu", 1973

MBAH hadir lagi. Dihantam flu gegara main hujan, Senin, 27 Januari 2020 lalu, bikin badan dan tulang tua bergetar. Makan kurang enak, tidur tak nyaman.

Itu baru flu. Bagaimana dengan Yunus meong Blambangan yang sedang berdegup cemas karena sekeranjang kasus di kepolisian (penipuan hingga penyebaran kebencian), komplotan (pura-pura) pendukungnya yang galau jati diri, dan Poktolak di Dusun Pancer yang belakangan seperti melawan angin (gelagap juga bila PT BSI yang diseterui malah tak ambil pusing)?

Hari itu hujan deras mengguyur Tujuh Bukit dan sekitarnya. Bonusnya angin yang lumayan kencang. Mbah Tomat sedianya sudah melarang Mbah agar tak ganjen ke Pulau Merah dengan alasan menonton beberapa orang menjala lemuru. Hujan bakal lebat, katanya, sambil menunjuk langit, mirip nujum.

Ternyata air memang tercurah dan Mbah terpaksa meringkuk di salah satu kedai kopi, menonton tirisan yang berdentam-dentam sembari membayangkan warna Sungai Katak, aliran Sungai Gonggo yang biasanya bikin banjir sebagian wilayah Kecamatan Pesanggaran, bahkan tenda (katanya) perjuangan Poktolak yang pasti porak-poranda. Sehari kemudian, sambil menyeruput teh jahe pelawan hidung mampet, Mbah tahu Sungai Katak baik-baik saja, Sungai Gonggo mengalir dengan bahagia, dan tenda Poktolak memang berantakan.

Gering dan dihukum jadi tahanan rumah oleh Mbah Tomat, membuat Mbah hanya bisa berselancar, membaca apa saja yang tengah jadi topik hot di Banyuwangi. Ndilalah, ketemulah pemberitaan media siber (tentunya masih yang abal-abal) yang menyoal kontrak antara BSI dengan pawang hujan (disebut dengan keren sebagai “Konsultan Pengendalian Curah Hujan”). Bukannya ini isu basi? Tapi Mbah tidak heran kalau wartawan-wartawanan itu baru mencium urusan ini. Yang wartawan benaran, setahu Mbah, sudah tahu perkara ini sejak kapan hari.

Dalam soal kontrak dengan “Konsultan Pengendalian Curah Hujan”, Mbah harus bilang: BSI sama dungu paripurnanya dengan beberapa gelintir orang yang kedoyanannya mencari-cari celah melibas perusahaan ini. Perusahaan tambang canggih ditopang teknologi tinggi, yang bisa mengakses satelit cuaca dan institusi seperti BMKG—bahkan ilmu cuaca ruang angkasa—, bisa-bisanya masih merujuk pada kemenyan dan jampi-jampi?

Tapi memang soal hujan dan dukun cuaca, BSI sama latahnya mengikuti kecenderungan umum di negeri ini. Terkini, Gubernur Jabar, Ridwal Kamil, engineer lulusan ITB dan University of California Berkeley pun ketika panik dirudung bencana alam akibat hujan deras, tak urung berpaling jua ke pawang hujan (setidaknya demikian yang ramai wartakan). Hasilnya? Hujan tetap deras dan Gubernur kembali ke ilmu modern untuk menanggulangi dampaknya.

Jika BSI pandir sebab percaya dukun bisa mengendalikan cuaca, maka para jurnalis jadi-jadian yang membangkitkan isunya (sejatinya kabar ini basi belaka) tidak lebih pintar satu setrip pun. Begitu bernafsunya mereka—yang ternyata baru kembali dari wisata ke Tambang Tujuh Bukit (Mbah juga baru tahu disela-sela menyedot hidung yang beler)—menggali-gali cacat BSI sembari tanpa malu-malu mengharap amplop, hingga kasip mencari tahu mengapa cuaca (utamanya hujan) menjadi faktor penting di operasi tambang ini.

Begini ya, teknologi pengolahan emas yang digunakan BSI adalah heap leaching (Indonesianya: pelindian). Ringkasnya, batuan (ore) yang ditambang dan diremukkan menjadi 5–7 cm, di-aglomerasi (direkatkan dengan semen), kemudian ditumpuk dan dialiri dengan solusi (solutions) berbasis karbon. Solusi inilah yang melarutkan emas di batuan, yang kemudian ditangkap, dicetak menjadi dore bullion (emas bercampur perak), sebelum akhirnya dikirim untuk dimurnikan (biasanya ke fasilitas milik Antam) menjadi emas dengan kadar 99,99%.

Heap leaching memerlukan air yang sangat banyak. Salah satu sumbernya adalah hujan. Di lain pihak, proses penambangan BSI juga dilakukan dengan peledakan (blasting) yang—suka atau tidak—antaranya menyemburkan debu. Mengingat operasi BSI berada dekat kawasan wisata, idealnya tanah di areal yang diledakkan dalam kondisi basah. Hujan yang turun, sebelum amunisi dan pemicu ledakannya dipasang, sungguh meringankan kerja blaster dan miners BSI.

Dari mana Mbah tahu urusan lindi-melindi dan ledak-meledakkan itu? Baca, wahai komplotan dungu berkelanjutan yang kian hari semakin kronis kebodohannya. Googling dan benak pasti terbuka cemerlang: bagaimana kalau alih-alih menghentikan hujan, “Konsultan Pengendalian Curah Hujan” yang berkontrak dengan BSI justru dipekerjakan agar di kawasan Tujuh Bukit hujan tercurah dengan konsisten?

Pikiran seperti itu, sayangnya, hanya datang dari otak yang sehat. Tidak di nalar receh kaum amplop.[]

TANGGAPI