Kapolresta Masih Siesta
Foto: Pixabay

SORE hingga malam, Sabtu, 11 April 2020, surat yang ditulis PT BSI untuk Walhi Nasional lalu-lalang di WA dan media sosial. Keramaian yang menyeruak di antara golakan isu Corona ini sejatinya dipicu berita Jokowi Didesak Tegur Kapolri Stop Sudutkan Pejuang Lingkungan yang diunggah situs berita CNN Indonesia, Kamis, 9 April 2020.

Berita CNN Indonesia itu adalah breakdown pernyataan Koalisi Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) yang beranggota (setidaknya) Walhi, Jatam, YLBHI, Amnesty Internasional Indonesia (AAI), dan Kontras. Yang bikin BSI bereaksi, karena juru bicara koalisi ini—yang juga Manajer Kampanye Pangan, Air, dan Ekosistem Esensial Walhi Nasional—, Wahyu A. Perdana, bilang: pada (Jumat) 27 Maret, pihak kepolisian melakukan intimidasi dan membubarkan aksi damai petani Tumpangpitu yang menolak perluasan area PT BSI.

Masih menukil Manajer Kampanye Walhi Nasional, CNN Indonesia menulis pula, kasus itu berkaitan dengan penutupan tenda perjuangan Tumpangpitu yang berakibat beberapa warga (petani yang melakukan aksi damai) mengalami luka berat di kepala.

Jika hanya merujuk Manajer Kampanye Walhi Nasional, peristiwa yang terjadi di sekitar Tujuh Bukit yang dia gambarkan memang gawat mustahak. Sebegitu gentingnya, menurut Koalisi Pembela HAM, kejadiannya patut dimasukkan sebagai salah satu dari lima kasus yang mendesak diperhatikan oleh Presiden Jokowi.

Setelah bolak-balik browsing, melihat kembali lalu-lalang WA sejak Poktolak Tambang bikin riuh di Kecamatan Pesanggaran dengan menghalangi logistik BSI pada Kamis, 26 Maret 2020, serta membaca copy surat BSI yang dibagikan di grup WA, Mbah mafhum: perusahaan yang mengoperasikan Tambang Tujuh Bukit ini lebih dari pantas jengkel. Koalisi Pembela HAM dengan juru bicaranya bukan hanya ngarang dan berhalusinasi, tetapi juga bohong tingkat dewa.

Mereka, dengan sengaja dan terencana, memanipulasi fakta dan menyiarkan dusta. Buat Mbah, yang sudah beberapa kali mengingatkan bejatnya praktik advokasi beberapa LSM yang seharusnya punya reputasi kredibel, kibul juru bicara Koalisi Pembela HAM yang dipublikasi CNN Indonesia itu tidak lagi membuat heran.

Yang bikin heran, seperti yang tak sengaja Mbah temukan pagi ini di situs topiknews.co.id, masih ada pembual lain yang mendukung tipu-tipu ala Walhi dan komplotannya. Dengan percaya diri pula.

Salah makan apa, obat apa yang keliru dikonsumsi, atau otaknya memang sejak mula sudah bebal, hingga Sujiyono yang mengaku pentolan LSM LP-RI (entah apa pula barang ini), yang dikutip topiknews.co.id (lepas dari situs ini diaku sebagai media siber kredibel atau tidak, tapi pastilah abal-abal jua), sesumbar bahwa pernyataan Manajer Kampanye Walhi Nasional adalah fakta dengan data yang benar. Ini orang jelas terganggu pikiran, terlebih Walhi Nasional tak terdengar berani menanggapi surat BSI, dan CNN Indonesia pada Sabtu, 11 April 2020, justru buru-buru menurunkan berita lain sebagai penyeimbang, Merdeka Copper Ungkap kekerasan Warga Tolak Tambang di Jatim.

sujiyono

Beruntunglah yang mengaku-ngaku aktivis tapi bahlul tak ketulungan dan ketinggalan kereta informasi seperti Sujiyono, karena dalam soal Poktolak Tambang dan antek-anteknya, harusnya diakui pikir dan gerak aparat kepolisian di Polresta Banyuwangi sama gesit dan cekatannya dengan kukang. Dapat dipastikan, polisi di Banyuwangi tak akan bereaksi sampai semuanya sudah terlambat dan tak ada lagi alasan kasus yang ditimbulkan Poktolak Tambang perlu mendapat perhatian dan tindak lanjut.

Surat BSI ke Walhi Nasional adalah bukti nyata. Melihat pemberitaan CNN Indonesia, seharusnya yang murka adalah Kapolresta. Berani-beraninya pihak yang entah hanya mendengar laporan dari ular belang atau biawak sawah, lalu menuduh secara terbuka polisi melakukan kekerasan yang mengakibatkan luka berat. Di kepala pula. Bayangkan andai berita itu dibaca oleh Kapolri, apa yang akan terjadi dengan Kapolresta Banyuwangi? Dengan pemahaman Mbah terhadap garis komando di kepolisian, minimal bokong Kapolresta bakal bilur-bilur seperti (maaf) pantat pelanggar pembatasan Corona yang dirotan polisi di India.

Mbah tahu, dengan pengetahuan kepolisiannya, Kapolresta khatam persis siapa yang mengisik Koalisi Pembela HAM dengan fakta palsu dan data dusta yang diberitakan CNN Indonesia itu. Pertanyaannya: apakah Kapolresta akan mengambil tindakan sebagaimana yang dilakukan BSI?

Tak ada keraguan dari Mbah. Kapolresta pasti diam saja atau malah baru bereaksi tatkala sebagian besar umum yang mengikuti sudah nyaris lupa. Musababnya: yang terhormat Kapolresta tampaknya masih khusyuk siesta dan belum jelas kapan bakal terjaga.[]

TANGGAPI