Gayamu, Lee… Le…
Gambar asal: Disney

VIDEO yang diunggah Jurnalis Karang Semanding (JKS) di facebook dibuka dengan pernyataan Eno Supono di depan jalan masuk Homestay Mojo Surf Camp (kini yang dikedepankan nama lokalnya, “A Red Island”). Dengan lagak wartawan beneran, dia menyatakan kehadiran mereka, Rabu, 12 Februari 2020, di tempat itu—lengkap diiringi Yunus meong Blambangan yang tentu tak jelas juntrungannya—, untuk rapat panitia Hari Pers Nasional/HPN ke-74 (sejatinya pada 9 Februari 2020) yang bakal digelar di Cluring Waterpark, akhir bulan ini.

Komplotan JKS memang suka bikin geli-geli syur. Gayamu itu, lho, lee… le…. Ke mana-mana langgamnya sok wartawan profesional dari media kredibel. Kenyataannya, bisalah dicek sendiri. Tak jelas bin tak genah. Panitia HPN ala JKS yang diketuai Pujianto dari Gemantara News (yang ada cuma situsnya, tanpa alamat atau informasi relevan apa pun), sudah pasti hanya akal-akalan mendulang duit dari sesiapa pun yang bisa ditakut-takuti dengan kartu pers bodong.

Biar Mbah tidak sekadar nyindir dan nyinyir, kita cocokkan data jurnalis yang diakui di Jatim oleh Dewan Pers dengan para begundal JKS. Adakah nama Pujianto (Gemantara News), Eno Supono (Radar Nusantara), atau yang lain yang akting wartawannya lebih pas untuk peran tukang palak? Kalau pun ada yang terkait JKS, salah satu (dari tak lebih hitungan jari tangan di Banyuwangi) adalah Erwin Yudianto yang disertifikasi “wartawan muda”—dan tak naik-naik—pada 2014.

Erwin cukup menarik ditilik. Dia adalah Kepala Biro Banyuwangi Harian Memo Timur (yang entah masih terbit harian atau sudah kelojotan), juga—bersama Almarhum Eko Suryono—identik dengan Komunitas Wartawan Koran, Majalah, Televisi, dan Online (Koma Vision). Memo Timur Banyuwangi dan Koma Vision seia-sekata berbagi alamat yang sama di kompleks Rukan Mendut.

Yang santer Mbah dengar, setelah Eko Suryono yang dihormati sebagai tokoh jurnalistik senior di Banyuwangi berpulang, Koma Vision mati suri dan Erwin mulai mesra dengan JKS. Bisik-bisik yang beredar di kalangan pewarta dan aktivis bilang, dalam soal membangun hubungan dan mengambil hati, Erwin pantas dapat poten 8. Bahwa setelah itu dia menjadikan hubungan yang dijalin sebagai modal kepentingan pribadinya, sudah pula jadi keawasan sejumlah orang yang waspada.

Dia gesit menempel ke tokoh-tokoh penting, terutama Forpimda. Tidak heran setiap kali ada pejabat baru, dia langsung bisa lengket. Lebih lekat dari lintah. Setelah itu, pejabat yang unyu biasanya tanpa sadar dicucut, dijadikan bargaining, bahkan alat menakut-nakuti. Konon (yang telah jadi rahasia umum) salah seorang politikus elit Banyuwangi yang berhasil dia cengkeram, kerap tak berdaya dan terpaksa meloloskan keinginan Erwin mengendalikan isu-isu tertentu yang semestinya jadi domain mutlaknya.

Sebagai master mind, Erwin juga pintar menyembunyikan diri. Dia merelakan panggung dikuasai wartawan abal-abal dari media-mediaan, karena toh keuntungan akhir terbesar tetap dia yang menangguk. Barangkali itu sebabnya Erwin sama sekali tak muncul di hiruk-pikuk isu terkini operasi tambang di Tujuh Bukit; juga dalam keramaian JKS pasang badan membela Zainal Arifin alias Ari Nasdem yang unjuk jago menentang operasi tambang di Tujuh Bukit sembari bertebal muka menjalankan homestay ilegal di pantai Pulau Merah.

Petantang-petenteng JKS menunjukkan pemihakan terhadap sesiapa pun yang lakunya terbukti tercela (macam meong Blambangan atau Ari Nasdem), sungguh bikin mual. Walau motif mereka jelas sumir, mbok ya ketika melacurkan diri jadi bumper Ari Nasdem dan Red Island-nya, JKS dan para wartawan gadungan yang berhimpun di dalamnya semestinya belajar agar tak terlalu kodian dan murahan. Show of force jadi centeng seolah-olah homestay liar yang sedang jadi sorotan itu legal adanya, dari norma, etika, dan subtansi paling dasar jurnalistik sudah amat sangat nista.

Tapi begitulah, wartawan imitasi dari “media sampah” (Mbah meminjam terminologi yang menyertai video unggahan JKS) mana pernah mengenal aturan dasar yang menjadi elemen mustahak jurnalisme seperti rumusan Tom Rosenstiel dan Bill Kovach (Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect, 2001) yang pasti terlalu canggih untuk otak mereka. Pencapaian kecerdasan mereka cukup sampai pada berapa banyak rupiah yang ada dalam amplop.

Mbah tak asal njeplak. Wajah-wajah di video yang didahului tampilan Eno Supono itu identik dengan komplotan pewarta jadi-jadian yang mine tour ke operasi Tambang Tujuh Bukit, Sabtu, 25 Januari 2020, yang lalu bikin heboh sebab tak beroleh amplop. Saat itu, kejengkelan para tukang palak menyaru wartawan ini dilampiaskan dengan mencaci BSI sebagai “tambang emas rasa pasir”.

Kalau begitu, dengan pasang gaya penuh yakin bersama Ari Nasdem di homestay (ilegal) Red Island, begundal-begundal JKS tentu dapat amplop lumayan tebal? Atau justru tetap gigit jari digratiskan sembari (demi solidaritas sesama kriminal) susah-payah membenahi harga diri yang koyak-moyak?[]

TANGGAPI