Cinta Fitri Season 7
Foto: MD Entertainment

INI bukan roman macam di film Arini, Masih Ada Kereta yang Lewat (1987) atau Ada Apa dengan Cinta? (2002). Kereta masih datang dan pergi dari Banyuwangi—hingga Ketapang; Cinta juga masih begitu-begitu saja: bikin panas dingin, galau-balau, bahkan (kata Payung Teduh) “sedikit cemas, banyak rindunya”.

Dan perempuan itu memang bukan Arini atau Cinta. Dia bernama Fitri. Mengaku asli dari Dusun Pancer (permukiman di pesisir Selatan Banyuwangi yang mulai dihuni saat Pemprov Jatim memberikan tanah di bawah pemangkuan Perhutani pada 1974), ibu rumah tangga, aktivis Kelompok Tolak Tambang (Poktolak) yang menentang operasi tambang di Tujuh Bukit dan sekitarnya, juga Kepala Dusun. Dia mulai mencuat sebagai “selebriti” Poktolak saat meletus goro-goro yang berakhir dengan pembakaran fasilitas eksplorasi PT Indo Multi Niaga (IMN) di Tujuh Bukit pada 2015.

Siapa pun yang melatih Fitri, harus diakui, hingga derajat tertentu, sukses menanamkan radikalisme antitambang, khususnya penolakan terhadap PT Bumi Suksesindo (BSI)—yang mengambil alih konsesi Tujuh Bukit dari IMN dan menaikkan statusnya dari eksplorasi menjadi operasi produksi. Sayangnya, Fitri sesungguhnya (komplet dengan keahlian mengharu-birunya disertai deraian air mata) cuma anti-BSI, bukan tambang, apalagi PETI.

Di keseharian, di Dusun Pancer (yang dipimpinnya), dia justru menutup mata terhadap rajalela PETI di Salakan dan bukit-bukit yang berada di sekitar kediamannya. Dan jika sesiapa pun berkunjung menemui dia, dengan mudah melihat tak jauh dari rumahnya ada gelondong (alat pengolah emas tanpa izin menggunakan merkuri/air raksa) yang bebas melenggang.

Setiap kali ada aksi Poktolak, Fitri yang bukan Cinta dan tak punya Rangga, yang menampilkan diri sebagai salah seorang pemeran utama, memang penuh warna dan kisah dan karenanya menarik dicermati. Ada apa dengan dia, yang sepertinya benci ke sum-sum dan memendam dendam membara terhadap BSI?

Ceritanya jadi seru jika ditarik jauh ke belakang, ke masa awal IMN di Tujuh Bukit, yang mulanya Mbah dengar sepintas dari buah-bual di warung kopi di Pulau Merah. Sambil lalu saja, sebab apa pula pentingnya memamah gunjingan?

Kata yang punya cerita—sembari menumpangkan kaki kanan ke atas bangku warung, sementara Mbah langsung mengambil posisi menelekan kepala ke tangan kiri—, dulunya tak ada yang pernah mereka-reka Fitri bakal jadi pentolan Poktolak, bahkan Kadus. Dia perempuan biasa, anak pantai, agak urakan, dan bahkan senang minuman beralkohol (kontras dibanding saat ini dengan tampilan berjilbab). Yang membedakannya dari perempuan lain seusianya, dia cukup cerdas dan pintar adu silat lidah.

Di masa itu, sekitar periode setelah 2010-an, beber yang empunya kisah, dia sangat kepingin bekerja di eksplorasi Tujuh Bukit. Kalau tidak langsung ke perusahaan induk, tak apalah di kontraktor yang berada di rantai pasok. Disebutlah perusahaan yang “katanya” (ocehan ala kedai kopi tentu tak harus 100% diyakini seketika) dia lamar. Benguknya, lamaran kerjanya ditolak, ditolak, dan ditolak lagi. Padahal, reka si pencerita, Fitri kadung terujung berat dapat sebutan “pekerja di tambang”.

Mbah tentu tidak perlu mempercayai bincang sambil lalu di antara kepulan asap rokok, kopi kental, dan kudapan ditimpai suara ombak dan tawa segerombolan turis di kejauhan dekat lidah ombak Pantai Pulau Merah. Lagipula, kebenarannya pasti bisa diabsahkan atau justru dilepeh sebagai bualan semata dari orang-orang lama di Dusun Pancer dan sekitarnya.

Namun, jika sebagian saja kisah yang tak sengaja turut Mbah simak benar adanya, itu mengkonfirmasi mengapa sikap Fitri terhadap operasi tambang sangat mendua: membiarkan PETI bebas ria beroperasi di Salakan dan sekitarnya—sampai-sampai ada gelondong di dekat rumahnya; sebaliknya gigih lahir batin menentang eksplorasi BSI di kawasan yang sama.

Akar perkaranya memang bukan ideologi yang telah gagal ditanamkan oleh Jatam, Walhi, atau siapa pun dan institusi apa pun yang menjadi dalang di balik tingkah dan laku Fitri. Pasalnya adalah: IMN, kemudian BSI, terlalu naif—mungkin pula bodoh—memetik pelajaran dari kebijaksanaan “orang yang patah hati karena kasihnya tak sampai, apalagi perempuan, adalah musuh yang pahit dan mengerikan”.

Demikian Fitri, jika bincang warung di Pantai Pulau Merah itu mengandung kebenaran. Dan celakalah BSI, juga orang-orang yang berbondong menjadi jamaah Poktolak di belakang Fitri.

Mengikuti pentolan patah hati hampir pasti akan berakhir dengan hati yang luka dan remuk-redam.[]

TANGGAPI