Dungu Paripurna
Foto: Manfred Richter

TIGA hari terakhir Mbah tak berkhidmat urusan kabar dan berita.

Sabana Taman Nasional (TN) Baluran yang mirip lanskap Barat Amerika (begitu kata buku-buku), terlalu indah diganggu urusan remeh-temeh. Banteng-banteng dan kerbau liar yang sudah lama ingin Mbah tengok kelewat seru dilewat gara-gara menengok warta di telepon pintar.

Eh, begitu kembali ke tengah Kota Banyuwangi, Mbah langsung disergap kabar: Senin, 20 Januari 2020, situs Cerita Tujuh Bukit dilaporkan ke Polresta ihwal ujaran kebencian. Pelapornya M. Yunus Wahyudi mengatasnamakan seluruh rakyat Banyuwangi, Poktolak, wartawan, LSM, dan entah siapa lagi. Hebatnya gayamu, Nak!

Tapi, dengan begitu, bertambah lagi pertanyaan bodor di keranjang Mbah: sejak kapan sang Yunus ini menjadi anggota DPRD hingga merasa layak dan sah mewakili seluruh masyarakat Banyuwangi? Dia Ketua PWI, AJI, atau sejenis organisasi kewartawanan lain hingga pede bongkokan mengatasnamakan para jurnalis? Kalau LSM, biar sajalah. Tiga orang pengangguran boleh, kok, bikin LSM. Masing-masing didapuk jadi ketua, sekretaris, dan bendahara, setelah itu pasang logo dan pesan kaus. Resmi, deh, ber-LSM.

Gampangnya mengaku-ngaku wartawan dan ber-LSM sudah jadi pengetahuan umum basi. Sejak reformasi 1998, siapa pun yang nganggur dan kepingin punya sebutan keren, tinggal menyematkan setidaknya tiga jenis klaim: aktivis, wartawan, atau LSM—yang terakhir ini, setiap kali mendengar, suka membuat Mbah ngakak.

Kembali ke Yunus meong Blambangan (coba cek, Walhi Jatim juga resmi menggunakan sebutan ini), alih-alih membuat jerih, pengaduannya ke Polresta Banyuwangi justru bikin Mbah terpiuh-piuh kegelian. Ujaran kebencian? Yunus yang mengaku sudah merembukkan urusan mengadukan Cerita Tujuh Bukit dengan segerombolan orang, pasti asal mencomot terminologi ini.

Sini Mbah kasih tausiah pendek: definisi populer ujaran kebencian atau hate speech adalah “tindakan komunikasi yang dilakukan individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, atau hinaan kepada individu atau kelompok lain dalam berbagai aspek (ras, warna kulit, etnis, jenis kelamin, kecacatan, orientasi seksual, kewarganegaraan, agama, dan lainnya)”. Karena negeri ini belum punya definisi baku sendiri, maka pengertian “ujaran kebencian” itu masih disadur dari bahasa Inggris. Tautan hukumnya pasti Pasal 28, Ayat 2, UU ITE dengan pengertian yang diacu dari Pasal 156 KUHP.

Sudahkah tuan meong mempelajari definisi itu dan bagaimana dugaan tindak pidananya dibuktikan? Sejak mula Mbah mengingatkan, yang kelakuannya konyol dan penuh ujaran kebencian adalah pahlawan kesiangan M. Yunus Wahyudi. Bukti permulaannya adalah bui yang pernah dicicipi akibat congor yang diumbar sembarangan. Mau segerobak fakta lain? Unduh saja petantang-petentengnya di YouTube, termasuk yang terakhir fitnah ujaran kebencian terhadap Mbah.

Coba saja cari ahli bahasa yang bersedia bersaksi, bahwa konten Cerita Tujuh Bukit berisi kebencian. Mbah berani memastikan, pakar yang waras dan berakal sehat bakal buru-buru menggeleng. Sebaliknya, membuktikan si meong Blambangan ini sebagai pengujar kebencian, semudah menjentikkan jari ala Thanos.

Bahwa Yunus tampaknya dengan sadar menikmati aksi badut sirkusnya (termasuk banyolan dua hari berturut saat menemui Poktolak penentang geolistrik BSI di Dusun Pancer), patut diduga akibat dia mengidap waham kebesaran, narsis, mengalomania, atau—yang paling ringan—memang tidak tahu diri. Untuk membuktikan dugaan ini, Mbah bersedia membiayai dia konsul ke RSJ terdekat.

Mbah juga rela mengeluarkan dana operasional agar yang bersangkutan ikut kursus peningkatan pengetahuan umum (setingkat Paket A atau B), setidaknya yang populer dan jadi konsumsi sehari-hari. Bikin risih dan malu saja membaca dan menonton dia berulang-ulang menyebut situs Cerita Tujuh Bukit sebagai akun. Begini ya, juragan meong, situs web (web site) dan akun (account) bedanya sama dengan pohon dan daun.

Kalau tidak mengerti juga (sebagaimana sampean tak paham apa sesungguhnya “ujaran kebencian” itu), Mbah angkat dua tangan setinggi-tingginya. Tidak ada lagi yang bisa dikomentari, apalagi diajarkan, pada dungu paripurna tingkat kronis yang sekali tepuk memborong tuntas semua kebodohan.

Yang bikin sedih, untuk waktu lama Mbah tak bakal ketemu pandir di Banyuwangi. Semua sudah dikantongi habis oleh empunya meong Blambangan: M. Yunus Wahyudi.[]

TANGGAPI