Jatam bukan hanya memanipulasi informasi, menyebar dusta, melainkan juga mengabsahkan kredibilitas mereka turun ke titik sekadar tempat berkumpul para spekulan rente advokasi.

BUKAN rahasia: para aktivis kekinian, khususnya yang bergiat di LSM advokasi negeri ini, umumnya fakir kreativitas.

Tengok saja, 25 tahun terakhir, lembaga seperti Walhi dan—terlebih—Jatam, bukan hanya kebingungan menempatkan diri (mau jadi Lembaga advokasi lingkungan atau institusi politik praktis menuju lingkar kekuasaan) tapi juga tidak berkembang dari sisi kreativitas metodologi dan implementasi. Gerakan mereka, yang nyaris menjadi cetak biru, sudah menjadi standar yang mudah dibaca: lontarkan tuduhan berdasar duga-duga; kampanyekan dengan massif di media (terutama media sosial); kerahkan massa (yang nyaris itu-itu juga); dan jika terpojok segera pindah isu atau sasaran lain.

Demikian yang hari-hari terakhir ini, sejak paruh kedua Desember 2019 hingga awal Januari 2020, terjadi di sekitar Tujuh Bukit, Bayuwangi. Geolistrik—studi awal mengetahui adanya kandungan metal dan mineral di bumi—yang dilakukan BSI di Lompongan dan sekitar, direspons persis dengan skema itu. Mula-mula menuduh BSI akan merusak lingkungan dan meminggirkan warga di Dusun Pancer, Sumberagung, disusul kampanye seolah bersimpati pada rakyat yang jadi korban; lalu masuk babak kerahkan massa—sembari para dalangnya mengkapitalisasi peristiwanya jauh di luar Banyuwangi.

Sebab sudah terduga, tidak mengagetkan ketika ada aksi massa yang melibatkan emak-emak menghalangi pekerjaan geolistrik. Taktik jadul ini harus diakui masih cukup efektif. Di luar aspek psikologi, sosial, dan budaya penghormatan terhadap kaum perempuan; siapa (polisi dari satuan Brimob sekali pun) yang berani sekadar bersentuhan dengan emak-emak yang membombardir dengan omelan dan serapah hingga kontak fisik disengaja?

Peristiwa yang kemudian di-tweet akun resmi Jatam, bahwa ada pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan dalam aksi menghalangi geolistrik, hanya mengkonfirmasi betapa institusi seperti ini kian kalap dan membabi-buta. Jatam bukan hanya memanipulasi informasi, menyebar dusta, melainkan juga mengabsahkan kredibilitas mereka turun ke titik sekadar tempat berkumpul para spekulan rente advokasi.

Adakah pelecehan terhadap perempuan di aksi emak-emak yang menghadang geolistrik Lompongan? Bukti-bukti faktual (utamanya video dan kesaksian) menunjukkan, hal-ihwal leceh ini dimulai oleh salah seorang perempuan paruh baya yang melontarkan kelimat-kalimat sexual harassment terhadap salah seorang warga lain yang dituduh mendukung geolistrik. Ketika akhirnya pelecehan verbal itu direspons, faktanya dengan segera direkayasa dan dibalik menjadi ada pelecehan terhadap perempuan.

Itu peristiwa pertama yang siapa pun pengelola akun twitter Jatam tentu tak punya bukti kerasnya. Mohon dimaklumi. Para aktivis Jatam sedang duduk di depan komputer entah di Jakarta atau Surabaya, menerima laporan, dan terbanglah halusinasinya ke jagad twitter.

Bagaimana jika ada pihak yang keberatan dan menempuh upaya hukum? Gampang, strategi dan taktik sama dijalankan lagi: tuduh saja ada pihak yang mengkriminalisasi aktivis/lembaga advokasi lingkungan, kampanye di media, dan kerahkan massa untuk demonstrasi. Yang mencengangkan: selalu ada yang masih terpengaruh dan bagai kerbau dicucuk hidung patuh dipecut kiri-kanan.

Agar ada alasan melibatkan institusi kredibel semacam Komnas HAM, Ombudsman, bahkan Mahkamah Internasional dan PBB, maka isunya mesti dieskalasi. Skenario menaikkan tensi disusun dan dieksekusi dengan segala cara di lapangan. Terjadilah peristiwa kedua, yang diklaim Jatam sebagai pemukulan oleh aparat yang mengawal pekerjaan geolistrik, yang menyebabkan seorang perempuan kena di dada dan satu lagi di dorong hingga jatuh dan pingsan. Akibatnya: dua emak-emak ini digotong ke RS.

Tweet itu sungguh dramatis, mencekam, dan menggugah emosi.

Faktanya, akun resmi Jatam memang telah bersulih dari sarana advokasi menjadi penyebar hoaks. Video yang merekam dua peristiwa yang diklaim sebagai kekerasan aparat itu menunjukkan, dua emak-emak yang “katanya” korban sama sekali tak disentuh aparat. Bahkan yang disebut didorong dan jatuh, tampak terang-benderang menjatuhkan dirinya disertai akting pingsan, sementara aparat terdekat berjarak lebih dari satu meter.

Untuk dua lakon jadi korban kekerasan aparat, emak-emak yang jadi pemeran alhasil gagal total. Penulis skenario dan sutradaranya, tentu saja Jatam adanya—yang dengan yakin seolah lebih tahu peristiwanya dari fakta di lapangan—, amatir dan kapiran belaka. Dengan kenyataan seperti itu, saya tidak heran (mengingat ancaman UU ITE agak merindingkan kuduk) tweet akun resmi Jatam itu bakal segera sirna setelah tulisan ini disebar.

Dan memang, fakta lain yang sudah jadi pengetahuan umum adalah: selain suka mengarang dan tak segan berbohong, belakangan aktivis institusi ini juga umumnya pengecut nir-tanggung jawab.[]

TANGGAPI