Demi Mencerdaskan Jatamnas & Walhi Jatim
Foto: Roland Schwerdhöfer

DOELOE kala yang sesungguhnya belum lama (untuk mereka yang waras, sehat, dan tak amnesia sejarah), ketika para cerdik-bijaksana merumuskan gerakan dan aktivisme masyarakat sipil di negeri ini, abreviasi Ornop dan LSM sempat jadi perdebatan seru. Belakangan, terserah mau pakai yang mana saja. Yang dianggap lebih penting adalah substansinya.

Mbah tidak tahu apakah mereka yang mengaku aktivis Jatamnas dan Walhi Jatim saat ini paham sejarah itu; Mengerti dan menghayati pula apa substansinya, terutama etika dan moral ber-Ornop atau ber-LSM. Tapi dalam gerakan advokasi dan aktivisme tolak operasi tambang di Tujuh Bukit, Banyuwangi, dua organisasi ini 1.000% tidak kurang, tampaknya diisi orang-orang berotak kecil dengan mulut dan jemari buntal.

Kurang dari tiga bulan terakhir, Jatamnas dan Walhi Jatim dengan gagah perkasa menunjukkan sejumlah ketololan mereka. Mbah mengajukan tiga sahaja.

Satu, memproklamirkan Kades Sumberagung, Vivin Agustin, sebagai pahlawan lingkungan; yang kemudian tak lebih 24 jam dicabut lagi—ditimpai dengan tanda silang di potretnya yang dikitar di media sosial. Gelar pahlawan oleh dua LSM kesiangan ini karena Kades dianggap sangat heroik setelah menandatangani surat rekomendasi pencabutan izin PT BSI di Tujuh Bukit. Eh, ternyata Kades kemudian menandatangani lagi surat pencabutan rekomendasinya.

Pesta-pora Jatamnas dan Walhi pun potol jauh sebelum klimaks. Kasihan, deh.

Dua, menuduh terjadi kekerasan fisik (termasuk oleh aparat berwenang) dan pelecehan terhadap kaum perempuan yang menolak geolistrik di Lompongan. Setelah video peristiwa yang sesungguhnya beredar di publik, tanpa malu dan meminta maaf, dua organisasi ini balik badan, melipat ekor, dan menghilang (sementara).

Tiga, mempahlawankan tersangka tindak pidana pemukulan pekerja geolistrik BSI, dengan dilabeli sebagai korban kriminalisasi. Video fakta kejadiannya beredar kurang dari 12 jam setelah koar-koar Jatamnas dan Walhi Jatim; dan pemandu sorak dua organisasi ini (sekali lagi) dengan pengecut bahkan menghapus tweet olokan ke twitter resmi BSI.

Biasanya korporasi yang menjadi olok-olok LSM dan aktivisnya. Rupanya di urusan advokasi antitambang di Tujuh Bukit, permainan berubah. Jatamnas, Walhi Jatim, dan pendukung-pendukungnya, jadi tak beda dengan kirik edan yang menggonggong dan menyalak ke segala arah (lengkap dengan mulut berbusa), menunggu dikemplang agar tak membahayakan umum—termasuk LSM dan aktivis yang belum tercemar virus meheng.

Tapi apakah yang waras dan berakal sehat setega itu? Ornop atau LSM (mau pakai yang mana, silahkan) tetap dibutuhkan. Masyarakat sipil wajib mendukung agar institusi semacam ini dan para aktivisnya tidak menggunakan dengkul. Maka dari itu, kendati berat (sepengetahuan Mbah pengobatan terhadap anjing gila hanya ada satu: disuntik mati), siapa pun yang peduli terhadap gerakan dan aktivisme masyarakat sipil, wajib hukumnya menyelamatkan Jatamnas dan Walhi Jatim.

Biar tidak dianggap mengatur, apalagi mencampuri urusan dapur organisasi ini, mari kita menggunakan cara kekinian, aman, dan idependen. Sebagai pengusul, Mbah tentu tidak boleh sekaligus jadi pelaksana, sebab rawan penyalahgunaan yang ujung-ujungnya korupsi atau fraud (Jatamnas dan Walhi Jatim perlu pula diajari ihwal fraud ini).

Konkretnya, mohon ada pihak independen dan tepercaya yang membuka donasi—lebih baik lagi crowdfunding—yang seluruh dananya disumbangkan ke Jatamnas dan Walhi Jatim. Penggunaannya ditujukan dan hanya diperuntukkan memperbaiki etika, moral, serta pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi para aktivisnya; biar ada faedahnya mereka bagi negeri ini. Alangkah tidak eloknya pandir dan dusta yang mereka persaksikan di media sosial dijadikan sebagai standar kompetensi.

Apabila tak ada relawan yang sudi karena takut ketularan rabies, apa boleh buat: BSI harus turut bertanggung jawab dan bersedia mengambil alih urusan membuat Jatamnas dan Walhi Jatim serta aktivis-aktivisnya lebih bermutu.

Bukankah baik pula buat BSI jika lawan yang dihadapi punya otak yang ada isinya?[]

3 KOMENTAR

TANGGAPI