Cerita Tujuh Bukit

Situs ini diniat dan tujukan untuk akal sehat dan kewarasan.

Riuh di Tujuh Bukit, deretan pengunungan—sebenarnya lebih tepat disebut perbukitan—di pesisir Selatan Kabupaten Banyuwangi mulai menyebar bersama kabar temuan cebakan emas dan tembaga di Kawasan ini pada sekitar 2012-an. Emas, terutama, memang menjadi sihir yang membetot banyak orang.

Sebagaimana yang umum terjadi di seluruh belahan bumi, di era modern, temuan metal dan mineral berharga, apalagi secara ekonomis layak ditambang, selalu disusul aneka rupa drama. Ada yang bahagia, yang berharap, ada pula yang berdiri di sisi sebaliknya dari kabar baik kekayaan dan berkah Tujuh Bukit.

Begitu tambang modern tiba, Tujuh Bukit dan sekitarnya berubah. Yang paling tampak dan terasa adalah tibanya macam-macam peralatan kelas berat, orang-orang yang kian banyak, dan sebuah kompleks perkantoran dan perumahan di mana para pekerja tambang bergiat 24 jam sehari, 7 hari sepekan, dan 365 hari dalam setahun. Rutin yang bahkan tidak berhenti ketika hari di almanak berwarna merah.

Giat yang ramai itu menular. Resto, kedai, dan warung berdiri. Pulau Merah kian kesohor bukan hanya karena pantai, tapi sebab ada tambang di dekatnya.

Di dunia, Tambang Tujuh Bukit mirip kembar tak identik dengan Waihi Gold Mine di Selandia Baru. Sama-sama berada dekat dengan permukiman (tambang di Waihi malah terletak di tengah kota) dan punya pantai yang jadi tujuan wisata: Pulau Merah di Tujuh Bukit dan Waihi Beach di Waihi).

Tambang, masyarakat, dan wisata, hidup berdampingan di Waihi. Tidak selalu mesra. Kadang-kadang ada perbedaan dan pertengkaran.

Bagaimana dengan di Tujuh Bukit? Situs ini adalah ikhtiar merekam yang terlihat, terbaca, terdengar, atau bahkan hanya terasa dari hari-hari kini di Tujuh Bukit dan sekitarnya. Ada juga renungan, kritik, nyinyiran, bahkan celaan.

Bukankah keindahan sebuah cerita, atau kisah, ada pada landaian, tanjakan, dan turunannya?[]