BSI Cemen!

SORE indah, Rabu, 22 Januari 2020, tatkala Mbah tiba di Warung Nasi Tempong Mbak Har, Benculuk, Cluring. Sedianya di depot makan dahsyat ini akan ditunaikan dahar siang terlambat digabung makan malam dipercepat. Pete krenyes-krenyes dibalur sambal pedes Mbak Har patut dicatat sebagai legenda dan bisa bikin fly: persis tembang Melayang serak-serak basah desahan January Christy.

Usai menandaskan ensambel pete, sambal, belut, tempe, dua potong besar ayam, dan tiga terong goreng, Mbah ngejogrok kekenyangan. Mata sontak kelap-kelip. Harap maklum, Mbah adalah warga +62 sejati: mengantuk ketika lapar, juga saat kekenyangan.

Ketimbang kepala jatuh di atas meja, sambil menunggu santapan turun, Mbah bersigegas meraih telepon dan berselancar ke beberapa situs berita. Alamak! Kaget betul menemukan ada berita Cari Sosok Anonim ‘Mbah Kangkung’ PT BSI Buka Sayembara Berhadiah. Ini lelucon apa lagi? Dugaan yang tebersit, beritanya pasti hoaks. Sebab apa pentingnya perusahaan tambang dengan cadangan emas dan tembaga yang diduga kedua terbesar di Indonesia ini (setelah Freeport Indonesia) menyayembarakan Mbah?

Setelah membaca cepat, kemudian googling untuk check, re-check, cross check, dan double check, Mbah lebih takjub lagi. Berita yang sama lalu-lalang pula di sejumlah situs yang dipublikasi dari Banyuwangi, bahkan Jawa Timur. Urusannya pun mustahak serius, sebab BSI menjanjikan hadiah Rp 5 juta dan sepeda gunung untuk siapa saja yang dapat mempertemukan mereka dengan Mbah.

Urusan sayembara itu mesti segera dibuat terang dan tuntas.

Satu, Mbah tidak berminat, apalagi bersedia, bertemu manajemen BSI. Situs Cerita Tujuh Bukit dikonstruksi tidak untuk menjadi pendukung atau corong komunikasi perusahaan ini, melainkan semata sebagai hobi dan ekspresi peduli, dan khususnya kecintaan Mbah terhadap Tujuh Bukit dan sekitarnya yang memang kaya lanskap dan kisah.

Bahwa beberapa tulisan yang dipublikasi, langsung atau tidak, terkesan menguntungkan BSI yang sedang dicacah Poktolak berkenaan dengan geolistrik di Lompongan dan sekitarnya (yang terus-menerus dihambat sejak Oktober 2019 lalu), semata kebetulan belaka. Tunggu saja, bila saatnya tiba dan BSI perlu dikemplang, Mbah tidak segan membuat manajemennya terkaing-kaing.

Di sisi lain, sayembara itu menunjukkan BSI juga koplak. Baru dapat sedikit angin sejuk dari tulisan-tulisan Mbah (yang faktanya sesungguhnya telah jadi pengetahuan umum), sudah ge-er mirip kembang desa yang merasa ditaksir bujangan sekampung. Maaf saja, dalam soal harga diri, Mbah punya prinsip: lebih baik tak laku sebab jual mahal, daripada laris-manis tapi dengan korting besar-besaran.

Perlu pula ditegaskan, situs ini tidak hanya membahas urusan yang terkait BSI dan operasi tambangnya di Tujuh Bukit dan sekitarnya. Banyak isu yang sudah Mbah agendakan untuk ditulis. Mulai dari Pura Tawang Alun, musholla kecil unik yang tak banyak diketahui orang di areal Pantai Pulau Merah, ayam pedes di Sumberagung, hingga durian hutan Kandangan yang sedapnya melelehkan liur.

Dua, hadiah sayembara menemukan dan mempertemukan Mbah dengan manajemennya yang hanya senilai Rp 5 juta ditambah sepeda gunung, rasanya kok seperti olok-olok. Cemen betul perusahaan ini. Mengapa tidak sekalian mereka memajang saja poster Mbah, lengkap dengan strip hitam melintang menutupi mata dengan tulisan mencolok “Dead or Alive” seperti yang sering digambarkan di komik-komik atau film-film koboi Hollywood.

Mbah memang tidak dan belum berlimpah rupiah, tapi kalau BSI hanya menghargai kesukaan menulis dan olah pikir dengan nilai demikian, maka Mbah memberi penawaran balik: bagi siapa pun yang tahu Mbah dan tidak bersedia membagi informasinya dengan BSI, akan disediakan hadiah Rp 10 juta dan dua sepeda gunung. Penawaran terbaik ini berlaku hingga 31 Januari 2020, pukul 00.00 WIB.

Catatan tambahan, satu sepeda gunung (dari dua yang disediakan) untuk pemenang sayembara dan satu lagi bakal disumbangkan pada M. Yunus Wahyudi yang pasti sedang setengah mati penasaran menduga-duga siapa sesungguhnya Mbah. Dia perlu bersepeda, sebab dengan olahraga tubuh menjadi sehat, pikiran pun—mudah-mudahan—waras wal afiat pula. Adagium latin bilang, “Orandum es tut sit mensana incorpore sano.” Marilah kita berdoa semoga di dalam tubuh yang sehat terdapat pula jiwa yang sehat.[]

1 KOMENTAR

TANGGAPI