Batil Pikir Saham Pemda di BSI
Foto: Erik Stein

MUSIM di negeri ini sering bikin pening. Musim kemarau orang merepet perkara sumur kering, debu meruyak, pohon-pohon jati tinggal batang dan ranting telanjang. Begitu ganti musim hujan, eh, mengamuk karena banjir—sambil tetap membuang sampah di selokan dan merambah hutan, menebang pohon, seenak jidatnya.

Itu musim yang normal. Rutin yang lain, yang biking belingsat, adalah musim yang meleset ditangani bisa bikin hilang hayat semacam demam berdarah (DBD) atau yang paling baru sedang melanda dunia: musim virus corona. Musim jenis ini tabu ditanggapi main-main. Apalagi dipermain-mainkan.

Untunglah di Banyuwangi, khususnya di Selatan—tempat Mbah berkebun dan kelayapan—musim yang sedang seronok cuma hujan dan durian. Kalau lagi menggigil terkena guyur disertai angin, cari lapak durian dan hantam empat biji durian jatuhan di Kandangan atau Songgon. Perut hangat, badan siaga bahkan buat dibawa loncat-loncat, dengan sedikit komplikasi punggung leher nyut-nyutan.

Orang tua mesti tahu diri dan tahu ukuran. Benar kata para bijak bestari, umur bisa membuat orang makin tahu cara menggunakan otak.

Maka dari itu, Mbah mesem-mesem saja ketika lagi-lagi ditunjukkan berita Nusantaranews News yang diunggah pukul 20.46 WIB, Kamis malam, 6 Februari 2020 (Ini Pendapat Dewan Tentang Saham atau Modal Pemkab Banyuwangi di PT BSI). Alih-alih kepingin ngakak karena selain Pe-A, wartawannya (kalau dia benar-benar jurnalis) juga minta ampun degilnya. Pantang mundur dengan segala ketidaktahuannya.

Daripada menasihati agar rajin baca, minimal googling, mumpung Mbah baru saja menghajar lima biji durian yang penjajanya (di jalan ke arah Kandangan) bersemangat berkisah ihwal dagangannya, lebih baik pewarta tumpul itu diajari dengan penuh sabar. Dari cara pandang dan menulisnya, untuk ukuran jurnalis, dia layak masuk kategori anak SD belum tamat.

Begini, Nak, kaitan Pemda Banyuwangi dengan BSI, selain karena perusahaan ini beroperasi di wilayahnya, juga sebab kepemilikan 1.145.000.000 lembar saham di PT Merdeka Copper Gold Tbk (MCG). MCG tak bukan adalah induk BSI (serta beberapa perusahaan tambang lain semisal operasi Wetar Copper Mine dan Pani Gold). Tbk artinya “Terbuka”, menandakan MCG telah menjadi perusahaan publik. Tercatat di BEI dan diawasi ketat oleh otoritas bursa, yakni OJK.

Mengapa Pemda Banyuwangi punya saham yang nilainya sudah mencapai lebih Rp 1,3 trilyun di MCG? Jika sejarah BSI (dan MCG) sungguh-sungguh dicermati, saham ini diperoleh tanpa modal (dana) sepeser pun. 1.145.000.000 lembar saham ini adalah pemberian. Good will dan good faith para pemegang saham penyetor dana di BSI (lalu MCG) terhadap Pemda dan masyarakat Banyuwangi.

Saham Pemda itu “berisi”, bukan sekadar portfolio. Nilai per lembarnya setara dengan saham yang dikuasai investor yang menyetorkan kepeng. Hebatnya lagi, setahu Mbah, dalam operasinya Pemda tahu beres. Bahkan ketika geolistrik di Lompongan terus-menerus disabotase Poktolak Tambang yang dipimpin Kepala Dusun Pancer (aparat pemerintah di tingkat desa), Pemda Banyuwangi santai saja belagak pilon. Seolah-olah itu urusan manajemen yang tidak perlu mengundang perhatian pemegang saham.

Karena MCG yang jadi induk BSI adalah perusahaan terbuka, pada dasarnya semua sepak terjang institusi ini boleh dan wajib diketahui publik. Jadi kalau ada aparat Pemda, anggota DPRD, atau yang mengaku tokoh di Banyuwangi cacau pasal saham ini, bokongnya sah saja disepak. Orang itu sama sekali tidak mengurus pekerjaan rumahnya.

Tapi barangkali Pemda, DPRD, dan masyarakat Banyuwangi umumnya merasa pantas-pantas saja tak peduli dengan BSI. Wong sahamnya diperoleh gratis, jadi buat apa bikin repot diri. Kalau untung dan deviden didistribusi, Pemda dan masyarakat kipas-kipas dapat faedah. Bila buntung sebab operasinya terus diganggu sementara Bupati dan jajaran tutup mata, gampang: tinggal tuding manajemen MCG dan BSI hanya diisi para pemalas tukang molor.

Hari-hari ini, melihat, mendengar, membaca (termasuk yang ditulis rondah-rondih oleh pewarta Nusantara News), dan merasakan batil pikir dan tindak warga (serta Pemda, DPRD, dan mereka yang merasa tokoh) Banyuwangi terhadap BSI, Mbah menyimpul: barangkali sudah waktunya para pemegang saham MCG memikirkan opsi menjual mahal operasi tambang Tujuh Bukit dan potensi di dalamnya (yang dengan sukaria pasti segera dicaplok investor Cina atau Rusia yang sedang lapar sumber daya alam, terlebih logam mulia), lalu mengalihkan operasi—bahkan bisnisnya—ke sektor dan daerah lain.

Siapa tahu dengan begitu Pemda, DPRD, dan masyarakat Banyuwangi (termasuk gerombolan wartawan gelamai yang tak pintar-pintar jua itu) dapat memetik pelajaran: manusia baru mampu menghargai sesuatu yang dia miliki justru ketika yang dipunyai itu hilang.[]

TANGGAPI