Babak Baru Tonil Walhi Jatim
Foto: Dorothe

KEGIGIHAN para aktivis Walhi Jatim memprovokasi (bukan advokasi) Poktolak Tambang “memerangi” PT BSI, patut dapat dua jempol. Mereka tak surut langkah kendati berkali-kali aktivis organisasi ini tertangkap tangan cuma mereka-reka dan menyebarkan dusta—terkini terkait aksi menghalangi geolistrik di Lompongan—soal operasi tambang di Tujuh Bukit.

Mbah sebenarnya tak punya urusan dengan organisasi itu dan penggiat-penggiatnya. Kalau pun kemudian turut terusik, semata karena simpati dan empati (utamanya) ke orang-orang yang ikut-ikutan atau terpaksa turut aksi Poktolak. Dalam cermatan Mbah, Poktolak, gerakan anti tambang Tujuh Bukit, dan segala aksesorinya, hanya komoditas yang dimainkan segelintir orang untuk kepentingan sendiri.

Saat ini kepentingan-kepentingan itu sedang bertemu di persimpangan yang sama. Ada Pilkada 2020 yang mengatraksi para avonturir (termasuk si Yunus meong Blambangan) ujug-ujug belagak aktivis lingkungan dan ikut peduli terhadap Poktolak. Ada pula Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) XIII Walhi yang akan dilaksanakan Juni 2020 mendatang di Makassar.

Direktur Eksekutif Walhi Jatim, Tri Jambore Christanto, yang dua hari terakhir ini secara tak sengaja Mbah lihat sedang ada di Banyuwangi selatan, tentu punya kepentingan tetap eksis setelah PNLH. Jika kehilangan panggung—faktanya, kinerja dia sebagai Direktur Eksekutif Walhi Jatim lusuh adanya—dan luput sorotan, nasibnya mudah diduga: berakhir sebagai orang bingung yang ke hulu mandeg, ke hilir juga macet.

Tapi sedang apakah Direktur Eksekutif yang di media namanya kerap disingkat Rere di sekitar Tujuh Bukit? Jawabannya datang dengan cepat setelah Mbah mendengar ada pemberitahuan aksi, lalu terkonfirmasi dengan surat yang dikirimkan Walhi Jatim ke Polda. Bahwa, pada Sabtu, 15 Februari 2020, Walhi Jatim mengkoordinir kampanye damai dengan aktor-aktris utama dari Poktolak yang sedang bikin tenda di ujung Dusun Pancer menghalangi geolistrik BSI di Lompongan.

Bentuk kampanyenya: bersepeda dari Dusun Pancer ke Surabaya dengan tujuan akhir Kantor Gubernur Jatim untuk menyampaikan aspirasi. Tonil yang sangat tak kreatif. Aksi seperti ini sudah pernah dilakukan kelompok masyarakat yang lain. Bahkan ada yang lebih ekstrem, semisal mengecor kaki dengan beton sebagai ekspresi menentang pembangunan pabrik semen seperti yang dilakukan masyarakat Kendeng, Rembang.

Menurut hemat Mbah, di satu sisi aksi ini adalah drama memikat perhatian umum. Syukur-syukur dukungan berdatangan dan publik yang emosinya terlanjur tergugah, tanpa memeriksa lebih jauh beramai-ramai mencencang BSI dan operasi tambangnya di Tujuh Bukit. Efek emosional ini bakal semakin mengguncang jika media sosial dilibatkan dengan intens.

Sekalipun, lakon yang sedang disutradarai Walhi Jatim ini sebenarnya mengkhawatirkan juga. Sebab, kebanyakan Poktolak, perempuan dan laki-lakinya, yang berkemah menghalangi geolistrik mayoritas orang tua. Cukup kuatkah paru-paru dan jantung mereka digenjot menempuh jarak lebih 300 km Banyuwangi–Surabaya?

Lagipula kalau memang Walhi Jatim, Poktolak, dan para pendukung yakin dan punya fakta solid operasi BSI di Tujuh Bukit berlumur pelanggaran, kenapa perusahaan ini tidak diadukan ke polisi dan diseret ke pengadilan? Atau, paling minim, ditantang debat terbuka di hadapan media dan panel ahli yang independen. Biar semua borok, kutu, dan kudis yang ditudingkan tidak lagi jadi syak dan wasangka.

Di lain pihak, Mbah juga boleh berprasangka, jangan-jangan aksi yang konon katanya akan diikuti hampir 100% Poktolak yang sedang berkemah menghalangi geolistrik, adalah upaya menyelamatkan muka semua orang. Muka Poktolak yang sudah capek tapi tidak tahu bagaimana caranya berhenti bertenda tanpa menanggung malu; pula wajah Walhi Jatim, Jatamnas, serta organisasi dan para aktivis penyokong, biar tetap bisa membusungkan dada sebab tahu tuduhan dan dugaan yang ditimpakan ke BSI sebenarnya fiktif adanya.

Telaahan Mbah itu bukan tanpa dasar. Dengar-dengar, dari perbualan di warung kopi, di saat Walhi Jatim, Poktolak, dan gerombolannya bersepeda ke Surabaya, BSI justru akan memulai lagi pekerjaan mereka di Lompongan. Bila salah satu dari dua pihak yang berhadapan meninggalkan medan tempur, ke lapangan yang justru tidak mereka kuasai, akan disebut apakah selain: menyerah!

Jangan-jangan kampanye damai bersepeda itu, yang tentu butuh dukungan logistik dan dana, adalah hasil kesepakatan win-win solution antara Walhi Jatim dan BSI. Toh semua pihak bahagia tanpa coreng di wajah.[]

4 KOMENTAR

  1. ndang tobat ae mbah… Mesakno umurmu mung kok gawe dulinan fitnah.. Kowe gak wedi karo Gusti Allah to mbah..
    Uripo sing bener jujur, golek duit sing bener koyo para nelayan kuwi ..

    • Fitnah opo, to, lé? Bicara apa adanya bloko-suto, kok, dibilang fitnah. Kowe gak wedi karo Gusti Allah to, lé? Provokasi kompar-kompori masyarakat thok bisamu. Uripo sing bener, jujur, golek dhuit sing bener koyo para nelayan yang mbok kompori kuwi. Cari duit dari jual kemiskinan masyarakat ‘ki ndak barokah blas, lho…

TANGGAPI