MBAH sedang berdebar-debar karena pemberitaan salah satu situs berita lokal Banyuwangi. Ada dua sekaligus, mirip kerja borongan.

Tajuk berita yang bikin Mbah makan enak dan tidur nyenyak itu (aki-aki biasanya kalau berdebar bawaannya ngantuk dan lapar) masing-masing: Merasa Dicemarkan Nama Baiknya, Yunus Wahyudi Si Macan Blambangan Segera Laporkan Akun ‘’Mbah Kangkung’’ dan M. Yunus Wahyudi, ‘’Bukan Hanya Saya, Walhi & Jatam Juga Disudutkan Oleh Akun Mbah Kangkung’’. Judul beritanya panjang amat ya? Apa wartawannya kurang pelatihan dan vitamin otak?

Mumpung Mbah sedang enak hati, kantong tidak inflasi, dan angin sepoi Pantai Mustika bikin segar, tak apalah memberi sedikit tausiah akal sehat dan kewarasan buat meong Blambangan ini. Begini, Nak Yunus, kata anak-anak belia milenia yang main twitter, “Bodoh itu memang gratis, tapi janganlah diborong sendirian. Nanti yang lain nggak kebagian.”

Nama baik yang dicemarkan. Orang linglung mana yang bilang sang Yunus ini punya nama baik? Mohon sesiapapun yang melek teknologi dan ada di dekatnya untuk mengajari cara googling, supaya dia bisa mengecek jejak digitalnya. Sekalian juga dipandu ke YouTube, menonton rekaman koar-koarnya yang konsisten mencla-mencle.

Bila sudah, tarik nafas panjang, tutup mata, berdoa, dan simpulkan: Apakah nama baik itu urusan perasaan sendiri atau simpulan dari seluruh adab, laku, tingkah, dan omongan yang—sayangnya—sulit disembunyikan di abad digital ini? Melaporkan Mbah mencemarkan nama baik dengan sejarah perilaku yang justru sebaliknya, cuma mengundang kekehan aparat berwenang.

Tak apalah, membuat orang tertawa bisa mendatangkan pahala. Walau, memang tidak memperbaiki kelakukan dan buah mulut. Apalagi reputasi.

Ujaran kebencian. Agak pening juga mencari-cari ujaran kebencian dari tulisan-tulisan yang Mbah buat? Di manakah barang itu berada? Mengejek dan menertawai penambul memang berserak. Tapi benci? Emang aktivis atau lembaga advokasi yang ngawur itu adalah pacar yang habis mutusin Mbah lalu mesti diujari kebencian?

Situs “Cerita Tujuh Bukit” dibuat oleh perusahaan tambang. Ini dia. Belum-belum sudah menyebarkan hoaks. Perusahaan tambang yang mana yang bikin situs ini? BSI? Enak saja, asal berbeda pendapat, yang dituduh BSI. Apa belum kapok dengan urusan hukum karena terlanjur asal nyeplak? Mau masuk bui lagi kalau perusahaan tambang entah mana yang dituduh menuntut bukti dan melaporkan ke pihak berwenang?

Menyudutkan Walhi dan Jatam. Tidak usah mengatasnamakan Walhi dan Jatam, sebagaimana Anda biasanya berkoar-koar atas nama rakyat Banyuwangi di segala tempat dan waktu, setiap kali ingin cari perhatian. Kenapa tidak sekalian mengikutsertakan The Jakarta Post (TJP) dan seluruh mahluk (hidup maupun tidak), yang langsung atau tidak turut terkena kritisi dan kritik Mbah?

Walhi dan Jatam bisa membela institusinya sendiri. Lagian, dalam kasus yang Mbah sorot, mana berani dua institusi ini banyak mulut. Mereka, dengan adanya video rekaman kejadian yang sudah beredar luas, tahu persis kampanye ada emak-emak jadi korban aparat berwenang di demo anti geolistrik, dasarnya cuma karangan belaka. Hasil dari laporan lapangan yang tidak mereka lihat dan rasakan sendiri.

Dua institusi itu hanya malu minta maaf secara terbuka atas dusta mereka. Yang waras dan berakal sehat juga pura-pura memaklumi saja.

Nak Yunus yang bodohnya makin bikin gemas (Mbah perlu sejenak istirahat karena tak kuat menahan tawa), menyeret-nyeret Walhi dan Jatam hanya menunjukkan Anda sedang menghibur diri supaya tampak sama pentingnya dengan dua lembaga ini. Sama dengan koakan (ini artinya suara burung gagak) melaporkan ke Presiden ihwal aksi di Dusun Pancer saat pidato di hadapan massa tolak tambang.

Aktivis jagoan kok tingkahnya seperti anak TK. Baru di-jiwit sedikit ngadunya ke mana-mana. Minta bantuan teman pula. Padahal menghadapi Mbah gampang saja: Bikin tulisan bahwa yang Mbah publikasi keliru, lengkap dengan fakta-faktanya, dan siarkan. Pernyataan ke pewarta dan media, terlebih konferensi pers? Cengeng amat.

Itu saja dulu dari Mbah. Sudah waktunya kopi dan kudapan sore yang lebih penting daripada mengurus aktor drama tak penting seperti Anda.[]

TANGGAPI